detikBali

Harga Air Kemasan di Bali Naik 1,86% Imbas Harga Bensin

Terpopuler Koleksi Pilihan

Harga Air Kemasan di Bali Naik 1,86% Imbas Harga Bensin


Fabiola Dianira - detikBali

Ilustrasi air minum kemasan
Ilustrasi air minum kemasan. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Hyrma)
Denpasar -

Harga air kemasan di Bali naik 1,86 persen pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menduga kenaikan tersebut berkaitan dengan meningkatnya biaya distribusi, termasuk akibat kenaikan harga bensin.

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan kenaikan harga air kemasan turut menyumbang inflasi Bali pada September 2026. Air kemasan memberikan andil 0,03 persen terhadap inflasi Bali yang tercatat 0,32 persen secara bulanan atau month-to-month dibandingkan Agustus 2026.

"Beberapa air kemasan itu harganya sudah mengalami peningkatan 1,86 persen dan memberi andil 0,03 persen," ujarnya, Kamis (1/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus mengatakan kenaikan harga air kemasan salah satunya berkaitan dengan meningkatnya biaya produksi dan distribusi. Hal tersebut sebelumnya juga muncul dalam sejumlah pemberitaan.

ADVERTISEMENT

"Salah satunya itu disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, transportasinya dia katanya naik, biaya transportnya dia naik, jadi mendorong dia untuk apa menaikkan harga katanya begitu," imbuhnya.

Menurut Agus, kenaikan biaya transportasi tersebut juga dikaitkan dengan meningkatnya harga bahan bakar.

"Kenaikan harga karena disebabkan oleh biaya transportasi dia yang meningkat karena tadi harga bensin meningkat itu ada di beberapa pemberitaan saya lihat," katanya.

Selain air kemasan, sejumlah komoditas lain juga menjadi penyumbang utama inflasi Bali pada September 2026.

Daging ayam ras mencatat inflasi 5,97 persen dengan andil 0,16 persen. Sementara cabai rawit mengalami inflasi 23,27 persen dengan andil 0,10 persen.

Biaya akademi atau perguruan tinggi mengalami inflasi 0,92 persen dengan andil 0,02 persen. Sedangkan jeruk mengalami inflasi 8,74 persen dengan andil 0,02 persen.

Agus mengatakan komoditas yang berulang kali menjadi penyumbang inflasi, seperti ayam dan cabai, perlu menjadi perhatian dalam pengendalian harga.

Sejumlah komoditas yang dikonsumsi masyarakat Bali juga didatangkan dari luar daerah. Karena itu, kelancaran distribusi menjadi penting untuk menjaga kestabilan harga.

"Jadi komoditas itulah yang dijaga ketersediaan maupun jalur distribusinya. Kan dari beberapa komoditas itu sebenarnya ada juga karena pengaruh distribusi yang kurang lancar," tandasnya.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads