detikBali

DEN Sentil Pemda soal Capaian EBT di NTB Baru 17 Persen

Terpopuler Koleksi Pilihan

DEN Sentil Pemda soal Capaian EBT di NTB Baru 17 Persen


Ahmad Viqi - detikBali

Anggota DEN, Sripeni Inten Cahyani ditemui di Mataram, Kamis (20/8/2026). (Foto: Ahmad Viqi/detikBali).
Foto: Anggota DEN, Sripeni Inten Cahyani ditemui di Mataram, Kamis (20/8/2026). (Ahmad Viqi/detikBali)
Mataram -

Dewan Energi Nasional (DEN) mempertanyakan capaian Energi Baru Terbarukan (EBT) di Nusa Tenggara Barat (NTB) meleset baru menyentuh angka 17 persen. Porsi ini dinilai masih jauh dari target yang direncanakan dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED).

Anggota DEN, Sripeni Inten Cahyani mengatakan Pemprov NTB telah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Peraturan Gubernur NTB Nomor 43 Tahun 2024 mengenai Peta Jalan Nusa Tenggara Barat Menuju Emisi Nol Bersih Sektor Energi Tahun 2050. Dalam Pergub itu NTB menargetkan EBT tahun 2050 mencapai 100 persen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keberadaan Pergub ini, Sripeni berujar, merupakan komitmen Pemprov NTB yang menargetkan dekarbonisasi 2050 atau 10 tahun lebih cepat dari target nasional Net Zero Emission (NZE) 2060. Tetapi eksekusi di lapangan yang dinilai meleset jauh dari perencanaan awal.

"Rencana daerahnya bagus dan progresif, tapi pas kita lihat realisasinya ternyata gap-nya lumayan jauh. Contohnya PLTA/PLTMH, dulu direncanakan 80 MW tapi yang terpasang baru 17 MW. Ini ada apa? Apakah perizinannya yang sulit dari pemda sendiri, atau ada kendala lain? Ini yang mau kita diskusikan bersama pemda," ujar Sripeni di Universitas Mataram, Kamis (20/8/2026).

ADVERTISEMENT

Sripeni menilai NTB memiliki keunggulan geografis dua pulau besar dengan karakteristik berbeda namun saling melengkapi Pulau Lombok yang fokus pada pariwisata dan komersial, serta Pulau Sumbawa di sektor pertambangan.

Untuk mengoptimalkan potensi ini, kata dia, Pemprov NTB diminta aktif menjembatani riset-riset energi dari perguruan tinggi lokal ke pihak industri atau BUMN seperti PLN dan Pertamina.

"Ayo dong, ini udah ada nih risetnya. Tolong dibantu dong. Itu tuh peran pemerintah daerah lho di situ," ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unram, Sitti Latifah, menegaskan bahwa Unram telah melahirkan banyak inovasi EBT.

Hanya saja, beber Sitti, implementasi riset kampus selama ini memang masih berfokus pada skala komunitas dan UMKM, belum masuk ke level industri besar.

"Penelitian kita terkait EBT sudah banyak, mulai dari mikrohidro di Lombok Utara, panel surya untuk pengairan lahan kering, mesin pencetak wood pellet berbasis hutan tanaman energi, hingga riset rumput laut di Lombok Timur. Skalanya memang difokuskan langsung untuk masyarakat lewat program seperti Profesor Berdampak dan KKN," kata Sitti.

Ia menambahkan, Unram juga telah menerapkan EBT secara internal melalui skema Green Matrix Campus, seperti penggunaan panel surya di area kampus, pengolahan sampah organik menjadi biogas, serta pengembangan sepeda listrik e-bike yang telah dibeli oleh perusahaan asal Korea.

"Kami siap terus mendukung, tinggal bagaimana ekosistem ini disambungkan bersama Pemda dan industri agar inovasi yang ada bisa di-scale up ke skala yang lebih besar," katanya.

Sitti juga membeberkan Unram mulai mencoba mengolah sampah yang ada di kampus-kampus menjadi EBT. "Kita ingin selesaikan sampah di Unram ke arah EBT supaya mengurangi polusi," tandasnya.



(hsa/iws)









Hide Ads