detikBali

Nilai Impor Barang Bali Meningkat, Ekspor Malah Turun

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Nilai Impor Barang Bali Meningkat, Ekspor Malah Turun


Sui Suadnyana, Fabiola Dianira - detikBali

Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, saat rilis berita resmi statistik, Rabu (1/4/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Foto: Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, saat rilis berita resmi statistik, Rabu (1/4/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Denpasar -

Nilai impor barang Bali pada Januari-Februari 2026 mencapai US$ 26,43 juta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, nilai ini tumbuh 29,53% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan impor terutama didorong kenaikan bahan baku/penolong yang mencapai US$ 15,19 juta atau 39,80%.

Sementara itu, impor barang konsumsi tercatat sebesar US$ 9,02 juta, meningkat 31,69%. Sebaliknya, impor barang modal justru mengalami penurunan sebesar 17,38%, yakni sebesar US$ 2,22 juta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menyoroti barang konsumsi yang diimpor cukup besar. Seharusnya, nilai impor barang modal dan bahan baku seharusnya lebih tinggi agar dapat mendorong aktivitas produksi dan memutar perekonomian.

"Yang cukup menarik selain itu juga jenis barang yang diimpor. Sekarang kan kalau kita pilah jenis barangnya itu, banyak yang barang konsumsi justru kan ya," ujar Hendrayana, Rabu (1/4/2026).

ADVERTISEMENT

"Padahal kalau kita bicara ekonomi, akan lebih bagus kalau komoditas yang diimpor itu adalah barang modal ataupun bahan baku karena itu akan menggerakkan produksi," imbuh Hendrayana.

Data BPS pada Januari-Februari 2026, beberapa komoditas impor barang konsumsi yang mengalami kenaikan adalah kulit samak (34,69%), logam mulia dan perhiasan/permata (39,64%). Barang yang nilai impornya naik paling tinggi adalah komoditas kertas karton dan barang daripadanya yang mencapai 449,01%.

Ekspor Bali Menurun

Di tengah nilai impor yang meningkat, ekspor Bali justru mengalami penurunan. Nilai ekspor Januari-Februari 2026 tercatat sebesar US$ 96,08 juta atau turun 5,04% dibandingkan periode yang sama sebelumnya.

Penurunan ekspor terutama terjadi pada sektor industri pengolahan dengan nilai US$ 82,78 juta atau 4,27%. Sektor pertanian juga mengalami penurunan nilai ekspor US$ 13,23 juta atau 8,88%.

Meski demikian, neraca perdagangan Bali masih mencatatkan surplus karena nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor. Adapun komoditas utama ekspor Bali masih didominasi oleh ikan, krustasea, dan moluska ke Amerika Serikat (AS).

"Neraca perdagangan kita masih surplus ya, artinya ekspor kita masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan impor. Tetapi karena ekspornya di awal turun, ya jadinya neraca perdagangannya jumlah surplusnya lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya gitu," jelas Hendrayana.



(dpw/dpw)










Hide Ads
LIVE