detikBali

Gurihnya Bisnis Telur Puyuh Bumdes Aura Cempaka Badung

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Gurihnya Bisnis Telur Puyuh Bumdes Aura Cempaka Badung


Agus Eka Purna Negara - detikBali

Produksi telur puyuh di Bumdes Aura Cempaka, Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Badung.
Foto: Produksi telur puyuh di Bumdes Aura Cempaka, Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Badung. (Agus Eka/detikBali)
Badung -

Kesibukan harian di Bumdes Aura Cempaka, Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Badung, kini diramaikan oleh ribuan burung puyuh yang mampu memproduksi belasan krat telur setiap paginya. Sebanyak 1.600 ekor burung puyuh yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat lokal ini menjadi tumpuan baru untuk menggerakkan ekonomi desa.

"Per hari itu menghasilkan 15 sampai 17 krat telur, di mana satu kratnya berisi 90 butir. Untuk pemasarannya sendiri, kami sudah memiliki dua pengepul tetap yang rutin mengambil hasil produksi," ujar Ketua Bumdes Aura Cempaka, Komang Trisnawati, Jumat (27/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski sempat mengalami masa sulit di awal operasional, unit usaha ini mulai menunjukkan tren positif dengan perolehan keuntungan bersih yang terus meningkat setiap bulannya, meski tidak fantastis. Memasuki bulan ketujuh sejak dimulai pada Agustus 2025 lalu, pendapatan bersih kini telah melampaui angka Rp 1 juta setelah sebelumnya sempat tercatat minus di bulan-bulan awal.

"Kalau di bulan pertama dan kedua kami memang masih minus, tapi masuk bulan ketiga sudah bisa dapat bersih sekitar satu jutaan rupiah. Sekarang sudah bulan tujuh, mudah-mudahan hasilnya bisa lebih lumayan lagi untuk desa," kata Trisna.

ADVERTISEMENT

Manajemen Bumdes menerapkan sistem pemeliharaan bertahap untuk menjaga stabilitas stok telur di pasaran dan menghindari penurunan produksi massal saat burung memasuki masa tidak produktif. Strategi ini dilakukan dengan menambah populasi secara berkala, termasuk rencana penambahan 700 ekor puyuh dalam waktu dekat guna mengejar target total 2.000 ekor sesuai program desa.

"Kami sengaja peliharanya bertahap supaya masa afkirnya tidak berbarengan, jadi produksi telurnya bisa tetap stabil terus dan tidak putus stok. Kalau sekali jalan 2.000 ekor, nanti pas masa puncaknya lewat, produksinya turun drastis dan kami tidak punya stok lagi," jelas dia.

Dalam hal operasional, biaya pakan menjadi komponen pengeluaran terbesar, sementara untuk perawatan kesehatan dan kebersihan lingkungan cenderung lebih mudah dikelola. Pengelola secara rutin memberi suplemen khusus, memastikan kotoran burung tetap kering dan tidak menimbulkan bau yang mengganggu permukiman warga di sekitar lokasi kandang.

"Biaya paling besar itu memang di pakan, kalau obat-obatan terhitung gampang dan kami rutin kasih supaya kotorannya kering dan tidak bau. Untuk harga jual ke pengepul sendiri fluktuatif mengikuti pasar, mulai dari Rp 31 ribu sampai yang paling mahal Rp 37 ribu per kratnya," tutur Komang Trisnawati.

Pemasaran telur puyuh merambah berbagai lini UMKM. Selain hasil telur, burung puyuh yang sudah melewati masa produktif selama 12 hingga 15 bulan juga masih memiliki nilai ekonomis sebagai puyuh afkir.

"Selain ke warung lokal, kelontong itu, telur kami juga sampai ke pengecer-pengecer. Nanti kalau burungnya sudah masuk masa afkir setelah satu tahun lebih, itu juga masih laku dijual dan hasilnya lumayan," pungkas Komang Trisnawati.




(hsa/hsa)










Hide Ads