Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat tingkat kemiskinan di Provinsi Bali terus menurun dan menjadi yang terendah secara nasional. Penurunan ini juga diikuti oleh tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang kian melandai. Pengeluaran untuk beras, perumahan, hingga rokok menjadi penyumbang terbesar yang memengaruhi angka kemiskinan.
"Ketimpangan makin rendah itu diikuti juga oleh pengurangan kemiskinan. Artinya penduduk miskin juga bisa menikmati kue perekonomian yang tumbuh nanti. Sehingga sebagian dari mereka beberapa keluar dari garis kemiskinan," ujar Agus Gede Hendrayana Hermawan
Kepala BPS Provinsi Bali, Kamis (5/1/2026).
Baca juga: NTT Tekor Gara-gara Pinang |
Berdasarkan data BPS melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2025, persentase penduduk miskin di Bali tercatat sebesar 3,42 persen. Angka ini turun 0,30 persen poin dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 3,72 persen.
"Jumlah penduduk miskinnya berkuramg dari 173,24 ribu orang menjadi 160,09 ribu orang," jelasnya.
Capaian 3,42 persen ini menempatkan Bali sebagai provinsi dengan persentase penduduk miskin terendah secara nasional, jauh di bawah angka kemiskinan nasional yang berada di level 8,25 persen.
Lebih rinci, angka kemiskinan di wilayah perkotaan turun 0,21 persen poin dari Maret 2025. Sementara itu, kemiskinan perdesaan turun 0,53 persen poin.
Dengan garis kemiskinan (GK) sebesar Rp 642.986 per kapita per bulan, Provinsi Bali menyumbang beberapa komoditas yang memberi kontribusi besar terhadap garis kemiskinan, antara lain: beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, kue basah, dan ikan mujair. Sementara, dari kelompok nonmakanan meliputi perumahan, bensin, upacara keagamaan, listrik, pendidikan dan kesehatan.
Sejalan dengan penurunan angka kemiskinan, tingkat ketimpangan pengeluaran di Bali juga mengalami perbaikan. Gini Ratio Provinsi Bali pada September 2025 tercatat sebesar 0,333, turun 0,020 poin dibandingkan Maret 2025.
"Ketimpangan kita juga mengalami penurunan. Ini menggambarkan perbaikan, bahwa ekonomi yang tumbuh mampu dinikmati oleh sebagian besar masyarakat, termasuk masyarakat bawah," imbuhnya.
Penurunan ketimpangan ini terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Gini Ratio Perkotaan tercatat sebesar 0,338, sedangkan Gini Ratio Perdesaan sebesar 0,269.
Sementara itu, berdasarkan klasifikasi Bank Dunia, ketimpangan di Bali masuk dalam kategori ketimpangan rendah. Hal ini terlihat dari persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah yang mencapai 19,31 persen, yang mana angka di atas 17 persen menunjukkan tingkat pemerataan yang baik.
Simak Video "Video: #Tanyadetikfinance Ekonomi Tumbuh 5,6%, Apa Artinya buat Gaji Kamu?"
(hsa/hsa)