Aprindo Bali Prediksi Konsumsi Ritel Turun gegara Warga Ngerem Belanja

Harga BBM Naik

Aprindo Bali Prediksi Konsumsi Ritel Turun gegara Warga Ngerem Belanja

Ni Made Lastri Karsiani Putri - detikBali
Senin, 05 Sep 2022 12:25 WIB
Pembeli berbelanja kebutuhan pokok di salah satu pasar ritel modern di Tangerang Selatan, Kamis (11/2/2021). Dalam Survei Pemantauan Harga (SPH) pekan pertama, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi Februari 2021 sebesar 0,01% secara bulanan (month-to-month/MtM). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan secara tahun kalender sebesar 0,25% dan secara tahunan (year-on-year/YoY) 1,26%. Para analis menyatakan trend inflasi yang melambat di bulan Februari tersebut mendorong ancaman deflasi atau daya beli rendah.
Ilustrasi ritel. Foto: Ari Saputra
Denpasar -

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali memprediksi akan terjadi banyak dampak pasca pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM pada Sabtu (3/9/2022) lalu. Salah satunya akan berdampak pada turunnya tingkat konsumsi ritel karena masyarakat mengerem belanja.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua DPD Aprindo Bali, A.A. Ngurah Agung Agra Putra (36) pada Senin (5/9/2022). Menurutnya, kenaikan harga BBM subsidi biasanya akan langsung berdampak pada kenaikan harga barang atau komoditi lainnya.

"Hal ini dikarenakan adanya variabel biaya operasional yang mengalami peningkatan, sehingga membuat mau tidak mau harga jual harus ditingkatkan untuk dapat menutupi pembengkakan biaya operasional tersebut. Kenaikan harga jual atau inflasi yang terjadi tentunya akan menekan daya beli masyarakat yang seperti kita ketahui saat ini belum pulih benar akibat pandemi," katanya.



Ia menuturkan, tertekannya daya beli akan membuat turunnya tingkat konsumsi ritel sehingga diprediksi masyarakat akan lebih selektif dalam berbelanja. Menurutnya, setiap kali terjadi kenaikan harga BBM, Aprindo Bali akan mencoba untuk melakukan efisiensi-efisiensi agar dapat menjaga rasio beban biaya vs pendapatan.

Adapun upaya yang kini dapat lakukan dalam menyikapi kenaikan harga BBM, yakni efektivitas stok dengan selektif dalam pengadaan barang dagangan. Baik jenis maupun quantity-nya juga menjadi langkah yang diambil sebagai antisipasi shifting atau perubahan perilaku belanja konsumen.

Kemudian, pricing atau harga jual menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan bisnis tetapi tentunya tetap menjaga agar tetap kompetitif. Menurutnya, adapun jumlah member Aprindo Bali saat ini terdiri dari 27 perusahaan dan untuk nasional berjumlah lebih dari 500 perusahaan.

"Bagi member sendiri, biasanya sudah akan bersiap dan responsif terhadap perubahan perilaku pasar akibat kenaikan BBM ini," ucapnya.

Dirinya pun berharap pemerintah dapat meninjau ulang kebijakan kenaikan harga BBM subsidi dan mencoba mencari solusi lainnya.

"Jikalaupun memang harus, maka harus ada semacam support atau insentif agar daya beli tidak kembali tertekan lebih dalam yang dapat mengakibat kembali melambatnya roda perekonomian," tambahnya.

Untuk diketahui, sebelumnya, pemerintah telah resmi menetapkan harga BBM jenis pertalite naik menjadi Rp 10.000 per liter yang dimana dari harga awal Rp 7.650 per liter. Kemudian, harga solar juga naik menjadi Rp 6.800 per liter yang dari awalnya Rp 5.150 per liter. Tak hanya itu saja, harga Pertamax pun ikut naik menjadi Rp 14.500 per liter dari harga awal Rp 12.500 per liter.




Simak Video "Para Pengendara Ini Menghindar Karena Dikira Razia, Ternyata..."
[Gambas:Video 20detik]
(nor/nor)