Kisah Inspiratif

Kurangi Efek Penggunaan Ponsel pada Anak, Sumerta Bikin Mie Kelor Gud

Chairul Amri Simabur - detikBali
Selasa, 09 Agu 2022 16:00 WIB
I Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Mokoh (51) saat menunjukkan produk Mie Kelor Gud.
I Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Mokoh (51) saat menunjukkan produk Mie Kelor Gud. (Foto: Chairul Amri Simabur)
Tabanan -

Berawal dari keprihatinan terhadap penggunaan telepon seluler (ponsel) yang tinggi di kalangan anak-anak mendorong I Wayan Sumerta Dana Arta (51) memproduksi Mie Kelor Gud.

Sesuai namanya, produk pangan olahan tersebut berbahan campuran tepung dan saripati daun Kelor.

"Daun Kelor dijus kemudian diambil saripatinya dan dicampur dengan tepung terigu," jelas Sumerta Dana, Selasa (9/8/2022).


Sumerta Dana yang akrab disapa Wayan Mokoh menuturkan, pembuatan Mie Kelor Gud sejatinya berawal dari coba-coba ditambah rasa keprihatinannya terhadap penggunaan ponsel di kalangan anak-anak.

Selain berisiko bagi kesehatan mata, penggunaan ponsel yang tinggi juga berpengaruh bagi perkembangan anak dalam belajar bersosialisasi.

"Karena dunianya anak-anak kan harusnya bermain," imbuh pria yang tinggal di Banjar Buahan Tengah, Desa Buahan, Kecamatan Tabanan.

Di saat yang sama, pandemi COVID-19 terjadi dan mengharuskan anak-anak belajar secara daring (dalam jaringan) dengan media ponsel atau laptop.

Berbekal kreativitasnya sebagai seorang seniman, iapun mencoba untuk membuat mie berbahan campuran saripati daun Kelor yang selama ini lebih sering diolah sebagai sayuran.

"Baru bulan ketiga saya memproduksi Mie Kelor Gud untuk bisnis. Itu karena ada teman yang menyarankan untuk dibuat sebagai buah tangan undangan di acara pernikahan anaknya," kata pria yang juga seniman karawitan ini.

Saat itu, jumlah pesanannya masih terbatas 600 sachet dengan takaran 75 gram. Namun, pesanan yang tiba-tiba dalam jumlah banyak itu tidak terproduksi dengan sempurna.

Dari 600 sachet, sekitar 200 sachet gagal karena hasil pembuatannya kurang kering. Apalagi proses pembuatan saat itu masih manual.

Berlajar dari pengalaman itu, Wayan Mokoh kemudian membenahi cara produksinya. Tidak hanya itu, ia juga mulai merubah produksinya dari mie basah menjadi mie kering.

Awalnya, ia memperoleh bahan baku daun Kelor dengan mudah. Karena mudah dijumpai di sekitar rumahnya.

Lambat laun, ia mulai memperoleh daun Kelor dengan cara membeli dari tetangganya yang kebetulan memiliki pohon Kelor.

Selain itu, ia juga mulai serius memproduksi Mie Kelor Gud. Tempat khusus produksi ia buat di pekarangan rumahnya agar lebih bersih.

Karena masih berskala UKM, hasil produksinya juga masih terbatas. Maksimal 25 sachet dalam sehari lengkap dengan bumbu jadinya.

Wayan Mokoh menyebutkan, saat ini ia tengah berupaya untuk bisa mengembangkan pemasaran Mie Kelor Gud.

Tahap awal untuk bisa ekspor juga dijajalnya yakni dengan mengikuti program sertifikasi dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan pada 7 Juli 2022 lalu melalui program Bapak Asuh UMKM.

"Saya coba-coba daftar dan akhirnya lolos. Dengan program Bapak Asuh UMKM ini, dari sisi biaya sertifikasi saya diringankan," sambung Wayan Mokoh.

Setelah sertifikasi tersebut, ia punya kesempatan untuk mengikuti diklat berikutnya sampai dengan uji laboratorium. "Belum bisa sampai ekspor. Tapi ini sudah tahap awal ke arah itu," kata Wayan Mokoh.

Saat ini, Mie Kelor Gud dilepas dengan harga Rp 8.000 per sachet. Pemasarannya tidak hanya di seputaran Tabanan atau Bali saja.

"Syukurnya sudah memasuki beberapa wilayah Jawa, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur yang daerah penghasil Kelor. Kurang lebih ada 20 reseller di seluruh Indonesia," pungkas Wayan Mokoh.




Simak Video "Perjuangan Ketut Budiarsa, Disabilitas Tulang Rapuh di Bali "
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)