Sebuah video memperlihatkan pria berpakaian ojek online (ojol) yang diduga menjual bahan bakar minyak (BBM) eceran kepada warga negara asing (WNA) di Bali viral di media sosial. Menurut unggahan tersebut, sejumlah orang disebut menjual 1,5 liter BBM dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
Belum diketahui pasti lokasi video tersebut. Namun, beberapa unggahan menarasikan kejadian itu berlokasi di kawasan Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali. Praktik penjualan BBM eceran dengan harga selangit itu terjadi di tengah kelangkaan BBM dan antrean panjang di sejumah SPBU di Bali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Kapolres Badung AKBP Joseph Edward Purba mengimbau masyarakat untuk tidak memperjualbelikan BBM bersubsidi secara ilegal. Joseph mengingatkan warga agar tidak memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan pribadi secara melawan hukum.
"Kami imbau dilarang menggunakan tangki modifikasi untuk membeli BBM subsidi untuk diperjualbelikan. Dilarang keras melangsir BBM subsidi ke jerigen untuk diperjualbelikan," kata Joseph dalam imbauan resminya, Rabu (14/10/2026).
Untuk mengantisipasi penimbunan BBM dan potensi gangguan Kamtibmas, Polres Badung juga menyiagakan personel untuk memperketat pengawasan dan penjagaan di beberapa SPBU. Langkah ini dilakukan selama kondisi suplai BBM belum kembali normal.
Joseph mengingatkan para pelaku penyalahgunaan BBM bersubsidi bisa diancam sanksi pidana sesuai Pasal 55 juncto Pasal 53 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. "Ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp 60 miliar," pungkasnya.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Diskopukmp) Kabupaten Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati, juga merespons langkanya BBM di Badung. Rosyawati menjelaskan pembelian BBM mengacu ketentuan Keputusan BPH Migas yang berlaku efektif sejak 1 April 2026 serta sistem pendataan melalui MyPertamina-Subsidi Tepat.
"Masyarakat kami imbau membeli sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan," ujar Rosyawati.
Menurut Rosyawati, PT Pertamina Patra Niaga terus memantau dan mengawasi alur distribusi BBM di lapangan. Diskopukmp Badung, dia berujar, turut mengawasi keabsahan alat ukur di SPBU sekaligus memantau dinamika di lapangan.
"Kami tetap mengawasi secara periodik, terutama terkait dengan tugas peneraan di SPBU, ditambah dengan kondisi sekarang kami harus memantau kondisi di SPBU agar bisa lebih cepat berkoordinasi ke Pertamina," paparnya.
Diketahui, praktik jual-beli BBM eceran secara online juga marak ditemukan di tengah kelangkaan dan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Bali, terutama Denpasar dan Badung. Meski dijual mahal, sejumlah warga rela membeli BBM melalui media sosial ketimbang antre berjam-jam di SPBU.
Berdasarkan penelusuran detikBali, penjualan bensin dengan harga lebih tinggi ditemukan di sejumlah akun TikTok, Facebook, hingga Threads. Akun-akun tersebut menawarkan Pertalite maupun Pertamax yang dikemas dalam botol air mineral berukuran tanggung hingga besar.
Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per botol. Bahkan, beberapa penjual memasang harga lebih tinggi.
(iws/iws)