detikBali

Sudaryono Copot 1 Kepala SPPG gegara Siswa Keracunan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sudaryono Copot 1 Kepala SPPG gegara Siswa Keracunan


Taufiq Syarifudin - detikBali

Kepala BGN Sudaryono (tengah) didampingi Wakil Kepala BGN Trenggono dan Agustina Arumsari memberikan keterangan pers seusai rapat pimpinan di kantor BGN, Jakarta, Senin (27/7/2026). BGN memberhentikan 261 pegawai BGN yang bermasalah usai melakukan evaluasi.
Kepala BGN Sudaryono, (Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto)
Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mencopot Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jayapura, Papua, menyusul kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. BGN menilai kasus tersebut sebagai pelanggaran fatal dan langsung mengambil tindakan.

"Ini fatal. Sudah langsung kami suspend, kami copot kepala SPPG-nya," kata Sudaryono kepada wartawan seusai rapat di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).

Sudaryono mengatakan BGN juga telah mengirim tim ke Jayapura untuk menginvestigasi penyebab ratusan siswa mengalami keracunan setelah menyantap MBG. Hasil investigasi itu akan menjadi dasar evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejauh ini investigasi sementara mereka masaknya kecepetan ya. Ini kita berpacu melawan waktu bagaimana caranya, intinya memastikan tidak boleh ada keracunan lagi. Tidak boleh lagi," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Sudaryono mengatakan hasil investigasi sementara menunjukkan makanan dimasak terlalu cepat, yakni sejak malam hari sebelum didistribusikan. Akibatnya, makanan tidak lagi segar saat disajikan kepada para siswa.

"Mereka memulai masaknya itu kecepetan. Jam 07.00 malam di hari sebelumnya sudah mulai masak, diberikan di jam 11.00. Jadi masaknya kecepetan, kemudian sudah dibawa itu sudah dalam kondisi rusak," katanya.

Selain proses memasak, BGN juga masih memvalidasi temuan adanya siswa yang membawa pulang makanan MBG untuk dikonsumsi beberapa jam setelah dibagikan. Menurut Sudaryono, kondisi itu berpotensi membuat makanan tidak lagi layak dikonsumsi.

"Kami validasi lagi adalah ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Nah jadi dia harusnya kan disantap misalnya jam 11.00 itu harus dimakan, dia dibawa pulang dimakan jam 03.00, jam 04.00 (sore), jadi sudah rusak," ucapnya.



(dpw/dpw)









Hide Ads