Wajah lelah masih tergambar jelas dari empat siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Sari Mekar, Kecamatan Buleleng, seusai menuntaskan lomba gerak jalan 8 kilometer dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Selasa (4/8/2026). Duduk beristirahat di kawasan GOR Buana Patra Singaraja, mereka sesekali memijat telapak kaki yang mulai terasa nyeri. Namun, di balik rasa sakit itu, terpancar senyum bangga karena berhasil mencapai garis finis.
Perjuangan mereka tidak mudah. Sepanjang lintasan, keempat siswa itu harus berjalan tanpa salah satu sepatu yang terlepas. Kaus kaki mereka bahkan bolong akibat terus bergesekan dengan aspal. Meski menahan perih di telapak kaki dan diterpa terik matahari, mereka memilih bertahan demi menjaga regu tetap utuh hingga finis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya dialami Komang Aris Sedana Arta. Salah satu sepatunya terlepas setelah tak sengaja terinjak rekannya saat melintasi kawasan Jalan Erlangga, Singaraja. Tanpa sempat mengenakannya kembali, Aris tetap melangkah mengikuti aba-aba komandan regu. Sejak saat itu, salah satu kakinya harus melangkah hanya beralaskan kaus kaki hingga akhirnya robek dan membuat telapak kakinya terasa perih.
"Tadi dikasih es sama aloe vera. Mungkin besok baru terasa sakitnya," ujar Aris malu-malu sembari memijat kakinya.
Aris bukan satu-satunya yang harus berjuang. Putu Agus Aditya, Kadek Cantika Merta Dewi, dan Kadek Gita Yusiana juga mengalami nasib serupa. Usai perlombaan, mereka tampak masih memijat kaki sambil melepas lelah. Rasa nyeri, kelelahan, dan panasnya cuaca tak mampu mematahkan tekad mereka untuk menyelesaikan lomba bersama-sama.
Guru PJOK SDN 1 Sari Mekar, Ketut Catur Mahaputra, mengaku sejak awal telah mengingatkan para siswa agar tidak memaksakan diri apabila sudah tidak sanggup melanjutkan perlombaan. Sekolah sebenarnya telah menyiapkan peserta cadangan. Namun, keempat siswa yang mengalami kendala memilih tetap bertahan.
"Saya bilang kalau tidak kuat boleh keluar karena takut lecet. Memang ada cadangan, tetapi kalau diganti bisa didiskualifikasi. Anak-anak ternyata kuat semua. Saya sempat khawatir karena di beberapa titik ada empat peserta yang sempat terlepas dari barisan. Semangat mereka luar biasa. Awalnya saya ragu mereka bisa finis, ternyata semuanya berhasil menyelesaikan lomba," katanya.
Perjuangan para siswa itu juga mengundang haru Kepala SD 1 Sari Mekar, Nyoman Satriarta. Sepanjang perlombaan, ia bersama guru dan para orang tua terus memantau kondisi peserta.
"Awalnya kami waswas. Baru sekitar satu kilometer berjalan, cuacanya sudah sangat panas. Kami terus memantau apakah semuanya mampu bertahan sampai finis. Saat mereka berhasil menyelesaikan lomba, guru dan orang tua benar-benar terharu. Yang paling penting bagi kami adalah semua anak bisa finis dengan selamat," ujarnya.
Satriarta menuturkan, SDN 1 Sari Mekar rutin mengikuti lomba gerak jalan setiap peringatan Hari Kemerdekaan. Namun, tujuan utamanya bukan semata mengejar prestasi, melainkan menanamkan disiplin, kerja sama, semangat juang, serta rasa cinta tanah air kepada para siswa.
"Kami selalu ikut sebagai bentuk partisipasi. Sejak awalmemang tidak menargetkan juara. Kalau meraih juara itu bonus. Yang terpenting anak-anak belajar pantang menyerah, bekerja sama, dan memiliki semangat patriotisme," jelasnya.
Sebelum mengikuti perlombaan, SDN 1 Sari Mekar menggelar seleksi internal yang diikuti 21 siswa. Dari jumlah itu dipilih 17 peserta inti dan empat siswa cadangan. Seluruh peserta berasal dari kelas 4, 5, dan 6, serta menjalani latihan rutin sejak awal Juli.
Meski telah berlatih lebih dari sebulan, tantangan di hari perlombaan ternyata jauh lebih berat dari perkiraan. Satriarta mengaku baru kali ini ada siswanya yang harus menyelesaikan lomba dengan sepatu terlepas hingga kaus kaki bolong karena terus bergesekan dengan aspal.
"Selama latihan tidak pernah terjadi seperti ini. Justru saat lomba ada yang sepatunya lepas, bahkan kaus kakinya sampai bolong. Tetapi mereka tetap semangat dan tidak menyerah hingga garis finis. Itulah yang membuat kami bangga," pungkasnya.
Bagi SD 1 Sari Mekar, perjuangan empat siswa itu menjadi bukti bahwa makna Hari Kemerdekaan bukan hanya soal menjadi yang tercepat atau meraih juara. Lebih dari itu, keberanian untuk tetap melangkah di tengah rasa sakit, saling menguatkan dalam satu regu, dan pantang menyerah hingga garis finis merupakan pelajaran berharga tentang semangat juang yang sesungguhnya.
Adapun lomba gerak jalan 8 km kategori SD ini diikuti oleh 123 regu. Pada ajang tersebut panitia menyiapkan hadiah senilai Rp 58,5 juta untuk para pemenang. Juara I memperoleh piala tetap, piagam, dan uang pembinaan Rp 15 juta, juara II Rp 12,5 juta, juara III Rp 10 juta, sedangkan juara harapan I, II, dan III masing-masing menerima Rp 8 juta, Rp 7 juta, dan Rp 6 juta.
Sementara itu rute lomba dimulai dari GOR Bhuwana Patra menuju Jalan Ngurah Rai, Jalan Pramuka, Jalan Diponegoro, Jalan Erlangga, Jalan Imam Bonjol, Jalan Veteran, Jalan Pahlawan, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Ahmad Yani, Jalan Dewi Sartika Selatan, Jalan Udayana, dan finis kembali di GOR Bhuwana Patra pintu barat.
Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna yang membuka dan melepas gerak jalan SD dalam sambutannya mengatakan gerak jalan ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana membentuk karakter generasi muda melalui disiplin, semangat belajar, dan jiwa kebangsaan.
"Saya mengingatkan kepada segenap generasi muda agar mampu mengembangkan diri melalui proses belajar dan disiplin yang dilandasi dengan semangat dan Jiwa 45. Mari kita satukan gerak dan langkah dalam membangun agar cita-cita bangsa, yaitu masyarakat adil dan makmur, dapat tercapai," kata Supriatna.
(hsa/hsa)