Kanker mengubah peta dunia medis. Pasalnya, kanker yang awalnya diidap oleh orang lanjut usia (lansia), tetapi kini telah menjangkit banyak anak muda di usia 20, 30 hingga 40 tahunan.
Data global menunjukkan kasus kanker usia di bawah 50 tahun terus merangkak naik. Jenis yang paling sering mengintai di antaranya kanker usus besar (kolorektal), kanker payudara hingga kanker darah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari detikHealth, dugaan penyebab penyakit kanker tak cuma satu. Sejumlah pola hidup modern ini diduga menjadi penyebab dan tengah disoroti para peneliti.
- Obesitas dan pola hidup kurang gerak (mager)
- Kegemaran makan makanan serba instan/olahan (ultra-processed food)
- Stres kronis dan kualitas tidur yang berantakan
- Gangguan bakteri baik di usus (mikrobioma)
- Paparan mikroplastik serta polutan lingkungan
- Perubahan pola reproduksi (seperti menunda kehamilan dan durasi menyusui yang singkat)
"Tren risiko kanker saat ini mencerminkan interaksi yang sangat kompleks antara genetik, gaya hidup, lingkungan hingga layanan pencegahan yang diakses masyarakat," ujar tim peneliti dalam laporannya.
Uniknya, tidak semua jenis kanker mengalami peningkatan kasus. Berkat upaya edukasi kesehatan dan vaksinasi, seperti vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks serta vaksin hepatitis B untuk menurunkan risiko kanker hati, beberapa jenis kanker justru berhasil ditekan.
Di luar urusan medis, dampak kanker pada anak muda justru paling berat di sisi psikososial dan finansial. Kanker datang saat mereka sedang giat-giatnya menata masa depan. Berikut dampak kanker pada anak muda.
- Ancaman kesuburan (fertilitas)
Efek kemo dan radiasi bisa memicu kemandulan. Menurut tim medis, isu kesuburan sering kali jadi perhatian paling utama. Pembahasan pembekuan sel telur (egg freezing) atau preservasi sperma wajib dilakukan sebelum terapi dimulai. - Kena mental
Melihat teman sebaya makin sukses berkarir dan berkeluarga, sementara diri sendiri harus bolak-balik RS, jelas bikin tekanan batin luar biasa. - Beban finansial
Tabungan belum stabil, karier terhenti, tetapi biaya berobat terus membengkak.
Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini!