Sejumlah gedung workshop di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Tabanan di Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan belum tersentuh renovasi secara menyeluruh. Selain infrastruktur, fasilitas penunjang pelatihan juga masih kurang optimal.
Kepala UPTD BLK Kabupaten Tabanan, AA Ayu Kesuma Yuliantari mengatakan bangunan BLK sendiri merupakan hibah dari Kementerian Ketenagakerjaan sejak tahun 1981. Selama kurang lebih 45 tahun itu, beberapa bangunan ada yang sudah rusak termakan usia. Walhasil, proses pelatihan menjadi kurang memadai karena terkendala infrastruktur.
Di lokasi tersebut kata Ayu Kesuma Yuliantari terdapat enam gedung yang diperuntukkan untuk pelatihan bagi masyarakat seperti workshop Bisnis Manajemen, workshop Processing, workshop Tata kecantikan, workshop AC, workshop Sepeda Motor, dan workshop Menjahit.
"Dari enam workshop, ada beberapa yang mengalami kerusakan dan belum tersentuh renovasi seperti workshop sepeda motor, AC, dan aula," ujar Yuliantari saat diwawancarai, Senin (3/8/2026)
Kondisi bangunan yang mengalami kerusakan juga telah dilaporkan kepada Bupati Tabanan dan mendapat perhatian. Namun, pelaksanaan renovasi secara menyeluruh masih harus menunggu alokasi anggaran karena pemerintah daerah juga memiliki sejumlah proyek prioritas lainnya.
"Kami tetap bersyukur karena beberapa ruangan sudah direnovasi seperti kantor, beberapa ruang workshop, dan sekarang yang sedang jalan workshop menjahit. Ke depan tentu kami berharap pembenahan bisa terus berlanjut," ujarnya.
Selain kondisi bangunan, kebutuhan yang dinilai paling mendesak saat ini adalah penyediaan sarana dan prasarana pelatihan, khususnya peralatan praktek. Salah satu kebutuhan utama adalah pengadaan komputer untuk mendukung pelatihan di bidang bisnis manajemen dan keterampilan digital dan pengadaan mesin jahit yang lebih representatif.
Di BLK sendiri terdapat beberapa instruktur di setiap bidang. Dwi Pratiwi, salah satu instruktur di kejuruan Bisnis Manajemen mengatakan kendala terbesar yang dihadapi saat memberikan pelatihan adalah belum optimalnya sarana dan prasarana. Terutama kebutuhan komputer yang menjadi perangkat utama dalam pembelajaran.
Menurutnya, keterbatasan fasilitas tersebut membuat proses belajar mengajar belum dapat berjalan secara maksimal. Baik instruktur maupun peserta harus menyesuaikan diri dengan kondisi peralatan yang tersedia.
"Bidang bisnis manajemen sangat bergantung pada komputer. Karena fasilitas yang ada masih terbatas, proses pembelajaran belum bisa berlangsung optimal," ujarnya.
Meski demikian, Dwi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan BLK Tabanan. Ia menilai peningkatan fasilitas pelatihan akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia serta membantu menekan angka pengangguran di Kabupaten Tabanan.
"Harapannya semoga kebutuhan yang masih kurang bisa menjadi perhatian. BLK memiliki peran penting dalam meningkatkan keterampilan masyarakat agar lebih berdaya dan mampu menciptakan peluang kerja," pungkasnya.
Simak Video "Video Raffi Ahmad Semangati Napi Nusakambangan: Keluar dari Sini Lebih Baik"
(mud/mud)