DLHK Badung Semprot Vendor soal Sampah Menumpuk di TPS3R Sempidi

Agus Eka - detikBali
Selasa, 21 Jul 2026 20:54 WIB
Pertemuan antara pihak Desa Adat Sempidi dengan vendor pengelola TPS3R Bumi Resik Sempidi di DLHK Badung membahas sampah menumpuk, Selasa (21/7/2026). (Foto: Agus Eka/detikBali)
Badung -

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung memanggil pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS3R) Bumi Resik Kelurahan Sempidi dan pihak Desa Adat Sempidi untuk mengurai tumpukan sampah yang tidak terolah. Penanganan sampah di kawasan tersebut mangkrak hingga memicu polemik pencemaran lingkungan.

"Tidak bisa kita menunggu saja dengan alat yang belum tahu kapan bisa datang untuk menangani sampah di sana. Kalau sudah tidak mampu, sampaikan saja. Jangan sampai kami menunggu sistem atau alat yang sama sekali kami belum tahu," kata Kepala DLHK Badung, Made Rai Warastuthi, saat mediasi di kantor DLHK Badung, Selasa (21/7/2026).

DLHK Badung mendesak pihak vendor PT Hejotech untuk segera membeberkan langkah konkret jangka pendek terkait tumpukan sampah di lokasi tersebut. Wirastuthi menegaskan Pemkab Badung siap membantu penanganan darurat jika perusahaan swasta itu sudah tidak sanggup mengelola sampah warga.

Sebagai langkah jangka pendek, pengelola TPS3R menyanggupi untuk mengevakuasi sampah yang belum terpilah itu ke lahan penampungan lain dengan mengerahkan alat berat dan 20 truk setiap hari. Hal itu dilakukan sembari menunggu tersedianya alat pencacah.

"Jika disanggupi 20 unit truk setiap hari plus eska (eskavator). Kami akan mengawasi besok pagi, karena kami sudah keluarkan surat teguran dari DLHK," ujar Rai Warastuthi.

Sementara itu, pihak Desa Adat Sempidi mengaku terpaksa bersurat dan meminta intervensi Pemkab Badung karena penumpukan sampah di wilayah mereka mengkhawatirkan. Selain ancaman bau busuk dan potensi penyakit, kondisi diperparah dengan masalah internal penundaan gaji pekerja.

"Jujur saja sampai saat ini belum ada langkah-langkah yang konkret yang bisa tiang percayai untuk mengatasi hal tersebut. Karena khawatir saya sampah itu jadi musim hujan jadi bau, kemudian timbul penyakit," kata Bendesa Adat Sempidi, I Gusti Ngurah Martana.

Martana menjelaskan persoalan itu dipicu lonjakan volume sampah yang mencapai 10 ton per hari. Padahal, perkiraan awal sampah yang masuk ke TPS3R Sempidi hanya 5-7 ton per hari.



Simak Video "Video Motif Penusukan di Denpasar: Pelaku Tersinggung Ditatap Korban"


(iws/iws)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork