Suasana Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, (1/5/2026), waktu itu ramai dipadati awak kapal perikanan (AKP) di dermaga. Aktivitas para AKP beragam, ada yang baru turun melaut, memperbaiki jaring tangkap, hingga duduk di atas kapal dengan AKP lainnya. Pelabuhan Benoa merupakan pelabuhan dengan tangkapan ikan tuna terbesar di Indonesia.
Di seberang dermaga juga tampak sejumlah bangunan perusahaan berjejer dilengkapi pagar dan petugas keamanan di setiap perusahaan.
Dalam sistem perikanan, AKP adalah pekerja yang menjadi penopang suksesnya perusahaan-perusahaan ini dalam berbisnis. Mereka akan berlayar hingga sembilan bulan lamanya untuk menangkap ikan di tengah laut.
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Bali, 40-50 ton ikan per tahun terutama ikan tuna. Angka tersebut terus meningkat diiringi dengan minatnya calon AKP yang ingin berlayar melalui Pelabuhan Benoa.
Dinas Kelautan dan Perikanan Bali melihat hasil tangkapan dalam 5 tahun terakhir relatif stabil. Jenis ikan juga beragam mulai dari tuna, cakalang, cumi, hingga kakap.
Namun, di balik besarnya produksi tangkapan ikan-ikan di Pelabuhan Benoa itu, menyimpan kesengsaraan para AKP selama memancing ikan di tengah laut berbulan-bulan.
Dalam kesaksian para AKP, ketika mereka dalam kondisi sakit di tengah laut tidak diperbolehkan untuk istirahat. Mereka dipaksa untuk kerja selama lebih dari delapan jam. Nasib nelangsa itu ditambah dengan tidak ada jaminan sosial saat mereka berlayar di laut.
Berlayar Tanpa Jaminan Ketenagakerjaan
Salah seorang AKP bernama Sulaiman (30), bukan nama sebenarnya, menceritakan pengalamannya selama menjadi AKP. Awalnya, ia berpikir perusahaan tempat dia bekerja menjamin semua tentang keselamatan dan kesehatannya ketika di laut.
Dulu, ketika dia semangat mendapatkan pekerjaan menjadi awak kapal berharap mendapatkan gaji dan jaminan sosial yang sama seperti layaknya karyawan. Namun, angan-angan itu pupus ketika dia menderita penyakit beri-beri saat di laut.
Penyakit beri-beri adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan vitamin B1 yang berdampak pada gangguan sistem syaraf dan peredaran darah. Kondisi ini menyebabkan pembengkakan di tungkai, lalu jantung berdebar, sesak napas, hingga kesemutan dan kelemahan otot.
Saat itu, Sulaiman berharap mendapatkan pelayanan yang layak saat sakit seperti dirawat atau diobati dengan obat yang sesuai. Nyatanya, Sulaiman justru dipaksa untuk tetap bekerja dalam kondisi sakit.
"Yang namanya kita itu kerja di kapal itu bukan malah pihak kapal yang nyediain obat, jadi kita malah disuruh bawa obat dulu dari darat," kata Sulaiman saat diwawancara detikBali, Sabtu (7/5/2026).
Sulaiman mengaku kondisinya saat itu parah hingga tidak bisa jalan. Alih-alih dikasih obat ia justru diminta berjemur untuk mengatasi penyakitnya. Bahkan, ia harus merangkak ke dapur bawah untuk membuat makanan.
"Harusnya kan kalau yang sakit terutama beri-beri ya harusnya dikasih bubur kacang hijau, waktu saya sakit karena saya nggak ikut mancing saya nggak boleh ikut makan bubur kacang hijau itu, yang nggak bolehin kaptennya karena saya nggak ikut kerja padahal saya sakit," ungkap Sulaiman.
Sulaiman mengalami sakit beri-beri ditambah bisul selama satu bulan. Sambil menunjuk letak sakit bengkak di kaki kirinya. Dia menuturkan kondisinya kala itu sangat miris.
Ketika waktu sandar kapal tiba di pelabuhan, ia mendatangi kantor perusahaan tempat dia bekerja. Harapannya besar ketika nanti berhadapan dengan perwakilan perusahaan permintaan jaminan ketenagakerjaan maupun sosial dikabulkan. Namun, permintaannya ditolak.
Sulaiman ditanyai ketika berlayar sakit apa yang diderita. Seusai menceritakan kondisinya ketika itu, pihak perusahaan tidak memberikan kompensasi berupa uang jaminan sosial yang seharusnya diberikan.
Dia keheranan karena informasi yang ia dapat sejak menerima pekerjaan ini salah satu jaminan yang didapatkan adalah BPJS Ketenagakerjaan. Pihak perusahaan justru menawarkan uang hanya sebesar Rp 2 juta untuk Sulaiman pergi berobat.
"Alasannya saya nggak kasih progres ke kantor, nggak hasil lah," tuturnya.
Padahal, jika dihitung-hitung selama sembilan bulan ia berlayar seharusnya menghasilkan uang puluhan juta ditambah dengan premi. Namun, dengan satu bulan ia tidak maksimal bekerja karena sakit, dianggap tidak membantu produksi ikan di kapal tersebut.
Sulaiman menilai cara-cara kerja seperti ini tidak benar. Bekerja sebagai awak kapal tidak mendapatkan jaminan keselamatan yang notabene pekerjaan di laut mengancam nyawa selama berbulan-bulan.
Ia melanjutkan, AKP lainnya juga tidak dapat perhatian dari perusahaan maupun kapten kapal sebagai senior mereka. Justru malah memarahi karena berkali-kali berlayar masih mengalami sakit.
"Kamu kok masih bisa kena penyakit kayak gini, lah yang namanya penyakit kita nggak mau loh. Enggak ada hubungannya sama berapa kali trip," ungkap Sulaiman.
Sulaiman mengungkapkan pihak perusahaan dan kapten selalu menyalahkan AKP yang minim persiapan menjelang berlayar. Seharusnya, kata dia, semua persiapan ditanggung oleh perusahaan.
"Terus nanti kalau semisalnya sudah terlanjur kejadian sakit itu nanti pihak kantor 'Kenapa kamu enggak ngomong ke kapten'," sebut Sulaiman.
Simak Video "Mencoba Wahana Seru di Rapid Adventure di Trans Studio Bali"
(mud/mud)