Konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran akan memasuki babak baru. Setelah hampir empat bulan saling serang, kini kedua negara dikabarkan telah bersepakat untuk mengakhiri perang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan Teheran telah mencapai kesepahaman sebagian besar isu yang dibahas dengan AS. Saat ini, Iran sedang meninjau rancangan perjanjian damai tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini, kesepahaman telah tercapai pada sebagian besar isu, dan kami berada di tahap akhir peninjauan internal," kata Baghaei dilansir dari detikNews, Sabtu (13/6/2026).
Menlu Abbas Araghchi sendiri sebelumnya menyatakan rancangan Nota Kesepahaman Islamabad belum pernah sedekat ini. Hal itu dianggap mencerminkan keadaan negosiasi antara AS dan Iran saat ini.
Baghaei mengatakan pertemuan yang melibatkan lembaga-lembaga Iran sedang berlangsung untuk memeriksa draf teks dan menentukan posisi akhir Teheran. Ia berpendapat kesepakatan dapat dicapai beberapa pekan lalu, tetapi menuduh pihak AS berulang kali mengubah posisinya.
Selain itu, Baghaei juga menyinggung sikap AS yang sempat mengeluarkan pernyataan kontradiktif. Termasuk ketika AS mengajukan tuntutan baru yang dinilai memperpanjang proses.
Baghaei lantas membantah tuduhan bahwa Iran kurang memiliki niat baik dalam negosiasi. Ia menegaskan Teheran secara konsisten mendekati pembicaraan dengan cara yang konstruktif. Meski begitu, juru bicara tersebut menolak untuk mengonfirmasi laporan media mengenai isi negosiasi.
"Tidak satu pun laporan yang dipublikasikan dapat dikonfirmasi secara resmi," imbuhnya sembari mengatakan detail kesepakatan akan diumumkan setelah kesimpulan akhir tercapai.
Diketahui, negosiasi yang dimediasi Pakistan tersebut berfokus pada pengakhiran permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat. Termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas maritim hingga konsensus tentang program nuklir Iran.
Wanti-Wanti Upaya Sabotase Israel
Sebelumnya, Araghchi mengatakan draf kesepakatan dengan AS akan ditandatangani dari jarak jauh setelah finalisasi. Namun, dia mewanti-wanti upaya Israel menyabotase perjanjian yang akan diteken dalam beberapa hari mendatang itu.
"Segera setelah tahap akhir negosiasi kami selesai, perjanjian ini akan ditandatangani dan diumumkan," kata Araghchi dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah, Sabtu.
"Penandatanganan awalnya akan dilakukan secara digital. Masing-masing pihak akan menandatangani dari jarak jauh. Setelah itu, akan diumumkan bahwa nota kesepahaman ini telah ditandatangani oleh kedua belah pihak," imbuhnya.
Selama wawancara, ia memperingatkan terhadap upaya untuk menyabotase kesepakatan potensial tersebut. Terutama oleh Israel.
"Saya harus jujur mengatakan bahwa perjanjian ini memiliki musuh, yang terpenting adalah rezim Zionis, yang mencari dalih untuk menggagalkannya," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan optimistis bahwa AS dan Iran akan mencapai kesepakatan kerangka kerja yang dapat ditandatangani pada akhir pekan ini. "Kami baru saja mencapai penyelesaian besar atas perang dengan Iran," kata Trump di Ruang Oval pada Kamis (11/06).
Trump menambahkan sejumlah dokumen sedang disiapkan dan dapat segera ditandatangani. Trump mengatakan Eropa dapat menjadi tuan rumah upacara penandatanganan tersebut, tetapi tidak menyebut negara atau lokasi secara spesifik.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!
(iws/iws)










































