Peringatan World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 di Peninsula Island, Nusa Dua, Badung, Minggu (7/6/2026), menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya pengelolaan sampah guna menjaga kesehatan laut dan terumbu karang. Pasalnya, sebagian besar sampah yang mencemari laut berasal dari aktivitas manusia di darat.
Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany mengatakan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem laut dunia karena memiliki kawasan terumbu karang yang luas dan keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Namun, kondisi tersebut hanya dapat dipertahankan jika pengelolaan lingkungan di darat dilakukan dengan baik.
Baca juga: Laut Gili Trawangan Tercemar Bakteri E. coli |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita mempunyai terumbu karang paling besar di dunia dan keanekaragaman hayatinya paling tinggi 70% dari spesies ada di Indonesia, tapi paling utama itu sebenarnya terumbu karang yang ada sekarang itu dan juga kondisi laut ini sangat dipengaruhi pada aktivitas yang ada di darat," ujarnya saat ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Meizani menambahkan sekitar 90 persen sampah plastik yang ditemukan di laut berasal dari daratan. Karena itu, upaya menjaga kesehatan laut tidak bisa hanya dilakukan di wilayah perairan, tetapi juga harus dimulai dari pengelolaan lingkungan dan sampah di darat.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), A. Koswara, mengatakan laut kerap menjadi titik akhir dari sampah yang tidak tertangani dengan baik di daratan.
"Sampah yang ke laut itu ibaratnya itu TPA. Terakhir gitu ya. Perjalanan sampah dari menilai sumbernya sampai di ujungnya itu ada di laut. Artinya pengelolaan sampahnya ini tidak bisa dilakukan hanya di ujungnya saja. Harus terintegrasi antara sumber sampai kepada hilirnya," katanya.
Ia menjelaskan pemerintah saat ini menjalankan sejumlah program prioritas, di antaranya pengelolaan sampah laut, perlindungan ekosistem laut, serta penguatan tata kelola pulau-pulau kecil yang terintegrasi dengan wilayah perairan di sekitarnya.
Koswara menegaskan pengelolaan laut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri mengelola wilayah laut Indonesia yang sangat luas.
"Karena pemerintah nggak bisa melakukan sendiri untuk mengelola laut yang begitu luas. Perlu keterlibatan semua pihak dan hari ini, alhamdulillah saya ucapkan terima kasih kepada semua mitra atas terwujudnya momentum dalam rangka peringatan Hari Laut Sedunia, Hari Coral Triangle dalam rangka Road to Ocean Impact Summit," katanya.
Sementara itu, Direktur Konservasi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, mengatakan pihaknya turut mendukung upaya pengurangan kebocoran sampah dari daratan ke laut, terutama sampah plastik.
"Untuk pengelolaan sampah di laut dari WWF juga sudah ada mengurangi kebocoran sampah dari darat ke laut bekerja sama dengan pemerintah daerah di lokasi-lokasi tempat kerja WWF terutamanya sampah plastik," imbuhnya.