detikBali

Laut Gili Trawangan Tercemar Bakteri E. coli

Terpopuler Koleksi Pilihan

Laut Gili Trawangan Tercemar Bakteri E. coli


Sui Suadnyana, Fabiola Dianira - detikBali

Sejumlah wisatawan asing bermain paddel board atau papan dayung di kawasan taman wisata perairan Gili Matra di Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Sabtu (5/7/2025). Kawasan konservasi nasional taman wisata perairan (TWP) Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan atau yang lebih dikenal dengan Gili Matra memiliki potensi alam bahari yang indah, antara lain hamparan pasir putih dan lautnya yang jernih serta terumbu karang  dengan ikan yang beranekaragam yamg mampu menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Foto: Sejumlah wisatawan asing bermain paddel board atau papan dayung di kawasan taman wisata perairan Gili Matra di Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Sabtu (5/7/2025). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Badung -

Bakteri Escherichia coli (E. coli) ditemukan di perairan laut Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat (NTB). Temuan tersebut menjadi sorotan karena muncul di tengah pencemaran laut Gili Trawangan yang mendekati status zona merah.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), A Koswara, mengatakan Gili Trawangan sebagai kawasan konservasi tengah menghadapi tekanan tinggi akibat aktivitas pariwisata.

"Gili Trawangan adalah kawasan konservasi laut. Namun, aktivitas pariwisata di sana sudah luar biasa ya dan ini mengganggu ekosistem konservasi yang ada di wilayah itu. Levelnya sudah mendekati warna merah," ujar Koswara saat berpidato dalam acara World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 di Peninsula Island, The Nusa Dua, Badung, Minggu (7/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Koswara, KKP telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB untuk memperkuat penanganan sampah di kawasan Gili Trawangan.

ADVERTISEMENT

"Kami sudah melakukan MOU juga dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat ya untuk melakukan atau menguatkan penanganan sampah ini," jelas Koswara.

Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, menjelaskan status mendekati zona merah menunjukkan tingkat pencemaran sudah bisa memengaruhi kesehatan manusia maupun ekosistem laut.

"Artinya adalah sampah atau polusi yang terjadi di laut itu sudah membahayakan terhadap kesehatan, bukan hanya kesehatan biota laut, tetapi kepada kesehatan manusia juga," kata Dewi.

Pencemaran laut Gili Trawangan makin menjadi perhatian setelah muncul informasi mengenai temuan bakteri E. coli di perairan tersebut.

"Tadi saya juga baru dengar dari Pak Dirjen bahwa menurut penelitian sudah sampai E. coli sudah sampai di laut, makanya itu perlu kita tangani bersama dengan KKP," ungkap Dewi.

Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, saat acara World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 di Peninsula Island, The Nusa Dua, Badung, Minggu (7/6/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)Foto: Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, saat acara World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 di Peninsula Island, The Nusa Dua, Badung, Minggu (7/6/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)

Menurut Dewi, temuan tersebut bakteri E. coli di perairan Gili Trawangan menjadi perhatian bersama. WWF bersama KKP dan sejumlah mitra pembangunan akan mendiskusikan langkah-langkah untuk menangani persoalan tersebut.

"Kita akan berdiskusi bersama-sama juga dengan mitra pembangunan lainnya untuk menangani hal tersebut. Kita belum ada sih sampai saat ini untuk yang masalah e-coli yang tercemar di laut itu, ya," imbuh Dewi.




(iws/iws)











Hide Ads