Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung tengah mematangkan rencana pembangunan rumah singgah. Fasilitas ini disiapkan untuk memperkuat perlindungan sosial sementara bagi masyarakat rentan sebelum mendapatkan penanganan lanjutan.
Selama ini, Badung belum memiliki rumah singgah. Kondisi tersebut kerap membuat penanganan kasus sosial di lapangan menjadi kurang optimal. Fasilitas ini juga dinilai penting untuk menampung berbagai persoalan sosial, termasuk warga yang mengalami konflik keluarga maupun situasi darurat lainnya.
"Sesuai arahan Pak Bupati, kami berproses untuk bangun rumah-rumah singgah. Rumah singgah ini yang dapat mungkin sekaligus berfungsi sebagai rumah berdaya," ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Badung, I Gde Eka Sudarwitha, Senin (1/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Dinsos bersama instansi terkait masih menyeleksi sejumlah opsi lokasi yang dianggap strategis untuk pembangunan fasilitas tersebut. Meski anggaran sudah disiapkan, penentuan titik lokasi tetap harus melalui survei dan kajian lebih mendalam.
Penentuan wilayah pembangunan mengacu pada hasil kajian kelayakan yang telah disusun Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertanahan (Perkim) Badung. Dari pemetaan awal, terdapat tiga kecamatan yang dinilai paling memenuhi kriteria.
"Kebetulan juga di tahun 2018 dan di tahun 2019, anggaran 2018 dan 2019, sudah dilakukan feasibility study oleh Dinas Perkim. Itu sudah ada plotting area di Kecamatan Petang, Abiansemal, atau Mengwi yang layak untuk dibangun semacam rumah singgah dimaksud," tutur Sudarwitha.
Dinsos Badung kini fokus menindaklanjuti seluruh rekomendasi teknis yang tertuang dalam hasil studi kelayakan tersebut. Tahap berikutnya mencakup penyesuaian desain hingga ukuran bangunan sesuai kebutuhan di lapangan.
"Maka kami tinggal melanjutkan hasil penyusunan atau kajian feasibility study dimaksud, termasuk luasannya, termasuk model bangunan itu sudah ada. Jadi kita tinggal langkah berikutnya lah untuk bangunan rumah singgah," lanjut eks Kadis Kebudayaan Badung itu.
Di sisi lain, ketiadaan rumah singgah selama ini disebut belum menimbulkan kendala serius dalam penanganan persoalan sosial di Badung. Hal ini disebut tidak lepas dari kuatnya ikatan kekerabatan dan kohesi sosial di masyarakat.
"Kita akui bahwa kehidupan sosial dan kohesi sosial masyarakat di Kabupaten Badung atau Provinsi Bali itu memang memiliki karakteristik berbeda dengan di wilayah lain, dalam arti masih jalinan kekerabatan sosialnya masih bagus sehingga secara umum masyarakat Kabupaten Badung itu tidak ada yang terlantar. Masih jalinan sosial, pengampuannya, perwaliannya masih bagus di internal keluarga," pungkas Sudarwitha.
(dpw/dpw)










































