Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskerpus) Badung melakukan digitalisasi naskah kuno untuk menyelamatkan data dan isi yang terkandung di dalamnya. Langkah ini dilakukan agar nilai pengetahuan dalam lontar tidak hilang dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Program alih media ke format digital itu sudah berjalan sejak 2024. Hingga kini, Diskerpus Badung mencatat hampir 200 cakep atau bendel lontar milik masyarakat telah selesai didigitalisasi.
"Pemilik lontar antusias mendigitalisasikan lontar warisan mereka. Ini menjadi penting agar isi lontar tetap aman dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang," ujar Kepala Bidang Pelestarian Bahan Perpustakaan Diskerpus Badung Kadek Wiratnata, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Wiratnata, lontar maupun naskah kuno yang ada di Badung perlu dirawat dan dilestarikan agar tetap terpelihara dengan baik. Selain itu, pemilik lontar juga perlu mengetahui warisan tersebut merupakan peninggalan leluhur yang harus dijaga.
"Lontar maupun naskah kuno yang ada di Badung perlu dirawat, dilestarikan supaya tetap terpelihara baik. Isi dari lontar itu juga penting diketahui pemiliknya bahwa itu sebagai warisan leluhur yang harus dijaga," kata Wiratnata.
Pemerintah juga menggelar sosialisasi pelestarian naskah kuno bertema di enam kecamatan se-Badung. Kegiatan itu melibatkan seluruh perangkat pemerintah dan penyuluh Bahasa Bali.
Ia mengakui masih ada kendala saat mengajak warga merawat lontar karena masih dianggap sakral.
"Dari sosialisasi itu kami ingin mengubah mindset masyarakat terhadap lontar dan naskah kuno. Lontar bukan hanya warisan yang disakralkan, tetapi juga sumber pengetahuan yang harus dijaga, harus diketahui," jelas Wiratnata.
Total lontar yang tersebar di Kabupaten Badung diperkirakan mencapai ribuan cakep atau ikat bendel. Sepanjang 2022 hingga 2025, Diskerpus Badung bersama penyuluh Bahasa Bali juga melakukan perawatan fisik terhadap sekitar 1.500 cakep lontar.