21 Jam Perundingan Gagal, AS-Iran Malah Saling Tuduh

Tim detikNews - detikBali
Senin, 13 Apr 2026 07:21 WIB
AS dan Iran Bahas Perdamaian di Islamabad, JD Vance Temui PM Pakistan. (Foto: Jacquelyn Martin/Pool via REUTERS)
Denpasar -

Perundingan maraton selama 21 jam antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu. Alih-alih mencapai kesepakatan damai, kedua negara justru saling tuding sebagai penyebab kegagalan negosiasi.

Sebagai informasi, konflik bermula saat AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu menyebabkan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei yang saat itu menjabat Pemimpin Tertinggi Iran.

Iran langsung membalas dengan menyerang Israel serta berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk. Perang tersebut telah menewaskan 2.076 orang dan melukai 26.500 orang di Iran.

Selain itu, serangan balasan Iran menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 orang di Israel. Sebanyak 13 tentara AS juga tewas dan 200 lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Dilansir CNN, Minggu (12/4/2026), Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan intensif dengan Iran tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen.

"Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya," kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.

Namun, katanya, kedua negara tak mencapai kesepakatan apa pun. Dia menyebut hal itu sebagai kabar buruk, terutama bagi Iran.

"Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," ujarnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut perundingan berlangsung intensif. Namun, ia menegaskan keberhasilan negosiasi bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan.

Baqaei juga menyerukan kepada Washington untuk menahan diri dari 'tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum'. Dia meminta AS menerima 'hak dan kepentingan sah' Iran.

Ia menyebut sejumlah isu yang dibahas meliputi Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga upaya mengakhiri perang secara total.

Simak Video "Video Danantara Ungkap 4 Sektor Kunci RI di Tengah Ketidakpastian Global"


(dpw/dpw)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork