Senja belum sepenuhnya hilang saat ribuan warga mulai memadati kawasan Catus Pata Desa Adat Buleleng, Rabu (18/3/2026). Masyarakat berdatangan dari gang-gang kecil hingga jalan utama untuk menyaksikan parade ogoh-ogoh dalam rangka Pengerupukan Fest 2026.
Kawasan simpang empat jantung Kota Singaraja itu telah berubah menjadi lautan manusia sejak pukul 17.00 Wita. Jalanan yang biasanya dipadati kendaraan sepenuhnya dikuasai warga. Mereka rela duduk di trotoar, berdiri berjejal hingga mencari posisi lebih tinggi demi mendapatkan sudut pandang terbaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu warga, Neli Agustini, datang bersama keluarganya. Ia menggandeng dua anaknya sambil sesekali mengingatkan agar tidak terpisah.
"Jarang-jarang bisa lihat seperti ini. Ramai, tetapi seru. Anak-anak juga jadi tahu budaya Bali," ujar Neli.
Dentuman gamelan mulai terdengar dari kejauhan, menandai dimulainya parade. Sorak penonton langsung pecah saat ogoh-ogoh pertama memasuki area Catus Pata Buleleng. Patung raksasa itu diangkat tinggi, diputar, dan digerakkan seolah hidup, memukau ribuan pasang mata yang menyaksikan.
Tercatat sebanyak 27 ogoh-ogoh dari 14 banjar adat tampil bergantian. Setiap peserta diberi waktu sekitar 10 hingga 20 menit untuk menampilkan kreativitas terbaik mereka di titik utama Catus Pata Buleleng.
Bagi penonton, momen ini menjadi klimaks dari seluruh rangkaian pengerupukan. Ogoh-ogoh tak sekadar diarak, tetapi juga dipentaskan dengan gerakan dinamis, koreografi terlatih, serta iringan gamelan yang menciptakan suasana magis.
Neli terkesan dengan detail ogoh-ogoh yang ditampilkan. Ia beberapa kali mengabadikan momen tersebut, terutama ekspresi anak-anaknya yang tampak antusias.
"Ini pengalaman pertama mereka. Biar mereka ingat, ini budaya kita," ungkap Neli.
Bagi Neli, parade ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana mengenalkan tradisi kepada generasi muda.
"Mudah-mudahan mereka selalu ingat. Ini bukan cuma ramai-ramai, tetapi ada maknanya," imbuh perempuan itu.
Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, berharap Pengerupukan Fest tidak hanya menjadi tontonan tahunan, tetapi berkembang sebagai agenda budaya unggulan daerah. Ia membuka acara itu secara resmi membuka acara dengan tradisi khas "ngoncang".
"Saya harap masyarakat dapat menyaksikan dengan baik. Tahun depan bisa kita gelar di titik nol Kota Singaraja karena ini sudah masuk Kalender Event Buleleng," ujar Sutjidra.
Parade ogoh-ogoh mengambil rute dari depan Kantor DPRD Buleleng, menyusuri Jalan Veteran, menuju Catus Pata, dan berakhir di Setra Desa Adat Buleleng. Sepanjang jalur tersebut, warga tampak berjejer menyaksikan iring-iringan.
Meski dipadati ribuan orang, situasi tetap terkendali. Aparat kepolisian menerapkan rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan truk besar dari arah Denpasar ke Terminal Sangket. Sementara kendaraan lain diarahkan melalui jalur Sambangan.
Sebanyak 45 pecalang juga disiagakan di sejumlah titik untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung.
Hingga malam makin larut, antusiasme warga tak surut. Ogoh-ogoh terus berganti, sorak penonton tetap menggema.
Di tengah arus modernisasi, malam pengerupukan di Singaraja seolah menjadi ruang bagi tradisi untuk tetap hidup, dirayakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi.