Proyek penanganan tebing retak di kawasan Pura Luhur Uluwatu, Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali, baru berproses pada fase pertama dari tiga fase yang direncanakan. Konsultan proyek menyebut tebing Uluwatu menghadapi dua tekanan, yakni aliran air dari atas tebing dan hantaman gelombang laut di bagian bawah.
"Kawasan Uluwatu itu adalah kawasan kapur. Jadi kawasan kapur ini punya karakteristik gampang larut oleh air hujan dan gampang rusak oleh sinar matahari," ujar Arisandi Putra selaku konsultan perencana proyek penanganan tebing retak Pura Uluwatu, Kamis (12/3/2026).
Arisandi mengatakan ancaman dari bagian atas tebing berasal dari saluran air hujan yang tidak tertata dengan baik. Menurutnya, air yang mengalir melalui saluran drainase berpotensi menggerus hingga membuat keretakan tebing makin parah.
"Drainase utama yang mengalir di kawasan ini harus ditata benar-benar, kekuatannya harus dipecah. Tidak bisa semua saluran dijadikan satu, karena aliran air yang besar bisa membelah tebing," imbuhnya.
Arisandi mengatakan retakan ditemukan di sejumlah titik tebing Uluwatu. Berdasarkan hasil investigasi, dia berujar, salah satu penyebabnya adalah pengelolaan drainase yang kurang baik serta beban aktivitas pengunjung yang terlalu dekat dengan bibir tebing.
Sementara itu, ancaman dari bagian bawah tebing berasal dari hantaman gelombang laut yang terus-menerus mengikis tebing. Untuk mengurangi dampak tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung telah membangun struktur pemecah ombak di bawah tebing.
"Kalau dikategorikan aman terhadap hantaman gelombang yang langsung ke tebing, jawabannya iya. Bangunan yang kami buat sudah bisa mereduksi energi gelombang sehingga tebing tidak lagi menerima tekanan langsung dari ombak," ujarnya.
Di sisi lain, Arisandi menilai penempatan kawasan suci di Pura Uluwatu oleh leluhur sudah tepat secara geologis. Menurutnya, tepat di bawah area utama mandala dan madya mandala Pura Uluwatu terdapat lapisan batuan keras yang berfungsi seperti 'paku bumi' penopang struktur tebing.
"Di sini ada paku bumi. Jadi semacam batu, tapi yang lebih keras dari batuan-batuan pada umumnya. Nah ini yang membuat Uluwatu sampai sekarang ini tetap tegak berdiri," jelasnya.
(iws/iws)