Kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) di Jembrana, Bali, masih sangat tinggi. Terjadi ratusan kasus gigitan pada awal 2026 sehingga mengancam keselamatan warga.
Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial (Kesos) Jembrana, I Gusti Bagus Ketut Oka Parwata, mengungkapkan ada sekitar 700 kasus gigitan HPR pada Januari 2026. Secara umum, tren gigitan HPR di Jembrana berada di angka 500 hingga 700 kasus per bulan.
"Januari sekitar 700 gigitan. Kami di Dinas Kesehatan Jembrana menghabiskan sekitar 1.200 vial vaksin per bulan untuk melakukan vaksinasi VAR (vaksin anti-rabies) kepada masyarakat," ungkap Oka saat dikonfirmasi detikBali, Jumat (13/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesos Jembrana mengambil kebijakan tegas, mengingat status Gumi Makepung yang masih berada di zona merah rabies. Setiap warga yang melapor terkena gigitan HPR wajib langsung diberikan VAR, tanpa harus menunggu hasil laboratorium hewan tersebut.
"Karena status kami masih zona merah, setiap ada kasus gigitan HPR harus dilakukan VAR. Kami tidak menunggu hasil keluar apakah HPR itu positif rabies atau tidak demi keamanan warga," tegas Oka.
Oka mengimbau masyarakat untuk tidak menyepelekan jenis luka gigitan. Menurutnya, tidak ada istilah gigitan ringan atau sedang dalam kasus rabies.
"Setiap gigitan HPR itu berisiko. Kita harus saling ingatkan, jangan anggap enteng karena kalau sudah terkontaminasi rabies itu sangat berbahaya," jelas Oka.
Meski konsumsi vaksin sangat tinggi, Kesos menjamin ketersediaan stok vaksin bagi warga Jembrana masih mencukupi berkat dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat.
"Stok VAR aman meskipun efisiensi sampai bulan Mei ini. Untuk SAR (serum anti-rabies) juga masih aman," ujarnya.
Selain penanganan medis, Oka meminta adanya penguatan dari sektor hulu, terutama dari para pemilik dan pencinta hewan. Oka menekankan pentingnya tanggung jawab pemilik agar hewan peliharaan tidak diliarkan.
"Sektor terkait agar menguatkan. Seperti pecinta hewan, jangan sampai meliarkan hewan dan pastikan vaksinasi rutin untuk hewannya," harap Oka
Oka mengajak seluruh komponen masyarakat dan pemerintah untuk bersinergi agar Jembrana bisa keluar dari status zona merah. "Mari sama-sama agar Jembrana tidak lagi menjadi zona merah dan Bali bisa bebas rabies," ajaknya.
(hsa/hsa)










































