Forum ASEAN Sosio-Cultural Community (ASCC) ke-29 membahas empat isu prioritas. Adapun empat isu Pilar Sosial Budaya ASEAN yang akan diajukan saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2023, yakni inisiatif one health, jejaring desa ASEAN, perlindungan pekerja migran dalam situasi krisis, dan pekerja migran khususnya nelayan migran.
Hal itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy selaku pemimpin sidang Dewan Menteri ASCC. Menurutnya, pembahasan isu prioritas itu sebagai upaya memajukan ASEAN yang inklusif dan tetap relevan dengan perkembangan isu global.
"Jadi nanti ada rekomendasi dalam pertemuan ini yang disampaikan kepada pimpinan KTT ASEAN. Karena sekarang ini keketuaannya Bapak Presiden, itu nanti akan kami sampaikan ke Bapak Presiden," kata Muhadjir dalam konferensi pers ASCC ke-29 di Nusa Dua, Bali, Senin (8/5/2023).
Muhadjir menegaskan pentingnya kerja sama untuk memfasilitasi pemulihan pascapandemi COVID-19. Hal itu akan tertuang dalam gagasan one health sebagai salah satu upaya pembangunan komunitas ASEAN.
"Sehubungan dengan kondisi ASEAN yang memulihkan dari pandemi COVID-19, sidang mendukung prioritas Indonesia untuk memperkuat arsitektur kesehatan regional dan mendukung deklarasi pemimpin ASEAN tentang inisiatif One Health sebagai salah satu dokumen keluaran untuk diadopsi pada KTT ASEAN ke-42," jelasnya.
Berikutnya, penguatan perlindungan sosial pekerja migran yang dalam situasi krisis juga menjadi prioritas utama ASEAN. Menurut Muhadjir, ASEAN berkomitmen untuk menjaga dan memperkuat ketahanan pekerja migran. Hal itu tercermin dari Deklarasi ASEAN tentang Perlindungan Pekerja Migran dan Anggota Keluarga dalam Situasi Krisis dan Deklarasi ASEAN tentang Penempatan dan Perlindungan Nelayan Migran.
"Ini juga menjadi isu termasuk Indonesia. Kita tahu bahwa banyak sekali migran kita di negara tetangga, yang nanti ditangani secara lebih terorganisir dan dalam scope regional," jelas Muhadjir.
Hasil penting lainnya di bawah Pilar Sosial Budaya adalah pembangunan desa dan pembentukan jaringan desa ASEAN atau ASEAN Village Network. Jejaring ini akan memungkinkan desa-desa se-ASEAN untuk saling bertukar pengetahuan dan menjajaki peluang kemitraan.
"Kita akan membangun jaringan desa-desa ASEAN, jadi kalau kita punya istilah one village one product, itu salah satu pengalaman baik yang sudah kita lakukan nanti tidak hanya kita lakukan itu untuk wilayah Indonesia tapi untuk kawasan ASEAN. Sehingga nanti ada jaringan desa-desa dari luar negeri, tadi saya sudah diberikan contoh one product one village-nya Vietnam saya lihat sudah bagus," jelasnya.
"Saya yakin diskusi kita hari ini adalah awal yang baik bagi Pilar Sosial Budaya untuk mencapai ASEAN yang tangguh, berkelanjutan, dan inklusif seperti yang kita cita-citakan," tandasnya.
(iws/BIR)