Perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Bali yang baru saja berlalu relatif aman dari hujan. Termasuk satu agenda penting, yakni ketika jamuan makan malam di GWK yang menggunakan ruang outdoor. Bukan pawang hujan, rupanya ada pasukan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berperan besar.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Pusat Guswanto membeberkan, persiapan dilakukan sejak 11 November. Atau hanya lima hari jelang acara puncak Presidensi G20. Dia menyebut, mengamankan event sebesar KTT G20 jelas punya tantangan sendiri.
"Mengamankan cuaca lokal di Bali cukup sulit ditangani," ujar Guswanto kepada detikBali Minggu (20/11/2022).
Menurut Guswanto, langkah penaburan garam dirasa efektif dalam meredam hujan di area venue G20.
Selama acara, hawa panas terasa di sekitar Nusa Dua. Hal ini merupakan pengaruh adanya penaburan garam yang cukup banyak. Yaitu sekitar 29 ton di langit kawasan Nusa Dua, area G20.
Pihaknya pun mengklaim bahwa dengan penaburan garam di langit Bali cukup efektif dalam mengantisipasi terjadinya hujan khususnya di kawasan venue G20.
"Kalau untuk saat ini efektif karena kan gini penaburan garam itu memberikan inti kondensasi bahwa proses pembentukan awan dan hujan itu bisa dipercepat dengan memberikan inti kondensasi pada penaburan garam itu," beber Guswanto.
"Di Bali itu sendiri itu membutuhkan suatu hal yang ekstra. Kenapa? Karena dia (awan) tiba-tiba muncul di wilayah itu, tidak dari jauh sudah ketahuan ada awan ini maka bisa dijatuhkan ke laut," imbuh dia.
Awan di Jimbaran ditahan tidak ke venue, halaman selanjutnya
(hsa/dpra)