Bukan Pariwisata, Ini Cara Bali Hadapi Ancaman Resesi Global

Bukan Pariwisata, Ini Cara Bali Hadapi Ancaman Resesi Global

Ni Made Lastri Karsiani Putri - detikBali
Senin, 03 Okt 2022 21:19 WIB
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra ketika ditemui di kantor DPRD Provinsi Bali, Jalan Dr. Kusuma Atmaja No. 3, Denpasar, Bali, Senin (3/10/2022) . (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)
Foto: Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra ketika ditemui di kantor DPRD Provinsi Bali, Jalan Dr. Kusuma Atmaja No. 3, Denpasar, Bali, Senin (3/10/2022) . (Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)
Denpasar -

Resesi ekonomi global dikhawatirkan akan menghantam pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata. Terlebih, perekonomian Bali sendiri selama ini terus ditopang oleh sektor pariwisata. Namun, Bali memiliki upaya-upaya di luar sektor pariwisata.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menjelaskan untuk mengantisipasi resesi global, pihaknya akan memperkuat peranan sumber daya lokal.

"Resisi global adalah ancaman bagi seluruh dunia dan hal tersebut bisa saja terjadi. Oleh karena itu, di dalam konsep transisi dan transformasi ekonomi Bali adalah dengan menguatkan peranan sumber daya lokal," sebutnya.


Menurutnya, hal tersebut juga untuk mengantisipasi dampak-dampak dari menurunnya kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Bali akibat pandemi Covid-19. Disinggung terkait inflasi Bali saat ini, kata Indra, pihaknya telah memiliki 2 upaya atau strategi dalam menangani hal tersebut. Pertama, dengan meningkatkan produksi dari komoditas yang memicu inflasi.

Indra menjelaskan, komoditas seperti cabai, bawang merah, bawang putih, hingga telur ayam akan terus digenjot produksinya. Ia juga menjelaskan, saat ini terdapat komoditas baru yang memicu kenaikan inflasi, diantaranya bahan bakar minyak (BBM), sabun deterjen dan rokok.

"Strategi yang kedua adalah dengan melakukan intervensi pasar dan itu sebabnya sekarang pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah Kabupaten Kota mencoba mengunakan instrumen APBD untuk mengitervensi pasar, supaya harganya tidak bergejolak naik," ungkapnya.

Adapun bentuk intervensi tersebut, yakni dengan memberikan bantuan transport kepada perusahaan daerah yang meng-handle komoditi pemicu inflasi. Kemudian, yaitu dengan melaksanakan operasi pasar pangan murah di beberapa titik dengan angka inflasi tertinggi saat ini, seperti Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng, Bali.

Untuk diketahui, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, pada bulan September 2022, Kota Denpasar tercatat mengalami kenaikan inflasi 0,56 persen. Sementara, untuk Kota Singaraja, Buleleng, tercatat mengalami inflasi sebanyak 0,35 persen.



Simak Video "Jokowi Blusukan ke Pasar Badung Bali Bawa Media Asing"
[Gambas:Video 20detik]
(hsa/dpra)