Mengenal Komunitas Songket, Sebelas Tahun Gowes Ontel di Akhir Pekan

Mengenal Komunitas Songket, Sebelas Tahun Gowes Ontel di Akhir Pekan

Chairul Amri Simabur - detikBali
Sabtu, 17 Sep 2022 22:30 WIB
Anggota Songket ketika rehat depan kantor DPRD Tabanan saat gowes pada Minggu (11/9/2022) sore.
Anggota Songket ketika rehat depan kantor DPRD Tabanan saat gowes pada Minggu (11/9/2022) sore. Foto: Chairul Amri Simabur
Tabanan -

Aktivitas bersepeda sempat menjadi tren di kala pandemi COVID-19 sepanjang 2020 lalu. Namun kini, tren tersebut meredup seiring kebijakan pemerintah yang mulai melonggarkan sejumlah pembatasan aktivitas masyarakat.

Redupnya tren bersepeda rupanya tidak berpengaruh bagi komunitas Songket (Sepeda Ontel Grup Kediri Tabanan). Komunitas sepeda tua yang berbasis di seputaran Kecamatan Kediri ini secara rutin tetap gowes (bersepeda) di akhir pekan.

Tidak hanya rute yang dekat-dekat saja, komunitas ini tidak jarang ikut terlibat dalam event bersepeda di luar pulau Bali. Terakhir kali, perwakilan dari komunitas ini berpartisipasi dalam event yang diselenggarakan di Kediri dan Banyuwangi, Jawa Timur.



"Nanti rencananya Pasuruan dan Paiton. Gowes dari sini. Kalau yang ke Kediri kemarin kalau tidak salah empat harian. Karena banyak mortal (mampir ke komunitas lainnya) juga," jelas Ketua Songket, Joko Sudiro (49).

Di luar event tersebut, pria dari Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, ini menyebutkan bahwa Songket rutin gowes bareng di hari minggu.

Terkadang kegiatan bersepeda bareng menggunakan sepeda tua itu berkolaborasi dengan komunitas lainnya. Misalkan dari komunitas ITPO (Ikawangi Tolak Punah Ontel).

"Biasanya gowes yang dekat-dekat. Seputaran Kediri. Olahraga dapat. Ketemu teman-teman juga dapat," sambungnya.

Songket sendiri, sambungnya, berdiri pada November 2011 lalu. Jadi pada November tahun ini, usianya akan genap sebelas tahun. Saat ini, jumlah anggota Songket sekitar 60 orang.

Menurutnya, sebagian besar anggota komunitas ini memiliki pandangan yang sama mengenai hobi mengayuh sepeda ontel. Salah satunya karena ontel merupakan sepeda klasik yang antik dan langka.

"Di samping karena suka olahraga bersepeda, karena keantikannya dan kelangkaannya. Bahkan sekarang sudah jarang diproduksi," sebutnya.

Sekalipun tua, menurutnya, ontel memiliki kualitas besi yang bagus. Sebagian di antara anggota Songket malah memilih untuk tidak mengecat sepedanya untuk menjaga keantikannya.

"Tapi yang namanya benda tua, pemakaian ontel juga ya harus disesuaikan. Tidak bisa asal digowes saja," sebutnya.

Hampir senada dengan Joko, anggota Songket, I Nyoman Budiarta (48) dari Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri, kualitas besi sepeda ontel justru lebih baik dibandingkan sepeda keluaran baru. Sehingga penggunaannya harus disesuaikan dengan keadaan sepeda.

"Misalkan di laher atau rantai. Rewelnya sepeda tua biasanya di komponen itu," ungkapnya.



Umumnya, anggota komunitas sudah terbiasa melakukan perbaikan pada komponen tertentu.


"Cuma untuk spare part memang agak susah carinya. Kadang dipaksakan pakai spare part sepeda baru tidak cocok. Misalnya rantai. Biasanya untuk ontel size-nya besar," pungkasnya.

Terlepas dari itu, ia mengatakan, hobinya pada sepeda ontel sudah menjadi media untuk berekreasi dan bersosialisasi. "Olahraga iya. Untuk style dapat. Untuk cari teman bisa," pungkasnya.



Simak Video "Berawal dari Hobi Gowes, Sekalian Usaha Kopi Pakai Sepeda"
[Gambas:Video 20detik]
(nor/nor)