'Kampanye' Medsos Tak Balas WA di Luar Jam Kerja, Apa Tujuannya?

detikHealth - detikBali
Sabtu, 17 Sep 2022 13:45 WIB
A man analysis business document with laptop computer counting with cost and writing make note at office, Business financial concept
Foto: Ilustrasi kesibukan karyawan (Getty Images/iStockphoto/Natee Meepian)
Jakarta -

Banyak orang yang workaholic alias gila kerja hingga sulit memisahkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Nah, belakangan di media sosial tengah ramai 'kampanye' normalisasi tidak membalas pesan Whatsapp di luar jam kerja, terkait urusan pekerjaan.

Netizen pun banyak yang mendukung 'kampanye' tersebut. Mereka menyebut, punya batasan yang jelas antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi sangat penting diterapkan. Ini demi mencapai work-life balance atau menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan dalam sehari-hari.
"Yuk bisa yuk quite quitting," tulis salah satu pengguna Twitter.

Istilah 'quiet quitting' ini dimaknai sebagian orang sebagai batasan untuk tidak terlalu banyak mengerjakan pekerjaan tambahan, sementara yang lain memastikan istilah ini merujuk pada pergeseran prioritas untuk kehidupan pribadi, alih-alih pekerjaan.


Tren quiet quitting berawal dari kebiasaan burn-out akibat pandemi Covid-19 yang membuat banyak karyawan lebih banyak meluangkan waktu untuk pekerjaan.

Psikolog Lee Chambers menyebut tren quiet quitting merupakan mekanisme koping yang digunakan untuk mengatasi kelelahan dan burnout saat bekerja.

"Quiet quitting memiliki potensi untuk meningkatkan aturan batasan, serta membantu orang menjauh dari produktivitas yang terlalu melelahkan hingga berdampak pada kesehatan mental," kata Chambers dikutip dari The Hill.



Simak Video "WhatsApp Down, Netizen Ramai-ramai Mengeluh"
[Gambas:Video 20detik]
(hsa/hsa)