WHO Sebut Akhir COVID-19 di Depan Mata, IDI: Tak Bisa Diprediksi

WHO Sebut Akhir COVID-19 di Depan Mata, IDI: Tak Bisa Diprediksi

detikHealth - detikBali
Kamis, 15 Sep 2022 15:29 WIB
Presiden Joko Widodo longgarkan kebijakan penggunaan masker. Diketahui, aturan itu hanya berlaku untuk aktivitas di luar ruangan dengan kondisi tidak padat.
Foto: Sejak pandemi, menggunakan masker menjadi hal yang biasa dilakukan. (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Akhir pandemi COVID-19 sudah di depan mata. Pernyataan ini dilontarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Meski demikian, penanganan COVID-19 masih perlu digencarkan.

"Kita belum ada di sana (akhir pandemi COVID-19). Tapi akhir sudah di depan mata," beber Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus pada wartawan di konferensi pers virtual, dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Kamis (15/9/2022).

Namun Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan catatan berbeda. Ditegaskan, pandemi COVID-19 adalah situasi yang amat sulit diprediksi.


Menanggai pernyataan tersebut, Ketua Satgas COVID-19 IDI sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(K), menegaskan situasi COVID-19 amat tidak terduga. Misalnya di Indonesia, jumlah kasus harian COVID-19 sempat mereda pada akhir tahun lalu.

Namun imbas kemunculan varian korona baru yakni varian Omicron, Indonesia kembali diterpa lonjakan kasus COVID-19. Bahkan, puncak gelombang Omicron lebih parah dibandingkan puncak gelombang sebelumnya yakni varian Delta.

"COVID-19 itu unpredictable banget. Situasinya dinamis sekali. Dulu tahun lalu sekitar akhir tahun kita juga merasa kita akan segera endemi, sudah mulai turun (kasus COVID-19). Bahkan saya ingat itu jumlah kasus kita harian di bawah 300," ujar dr Erlina dalam acara 'Pentingnya Vaksinasi Booster dalam Melindungi Masyarakat dari Akibat Serius Penyakit COVID-19 Termasuk Rawat Inap dan Kematian', Kamis (15/9/2022).

"Tiba-tiba muncul Omicron. Januari-Februari (kasus COVID-19) naik lagi. Bahkan puncaknya melebihi Delta. Kalau Delta puncaknya 54 ribuan, kalau Omicron itu 60 ribuan," imbuhnya.

dr Erlina juga menyoroti gelombang subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia kini tidak sedahsyat gelombang Corona RI sebelumnya. Ia menegaskan, penerapan protokol kesehatan dan penggencaran vaksinasi COVID-19 booster perlu diupayakan meski situasi COVID-19 RI kini relatif membaik.

"Alhamdulillah sekarang walaupun ada subvarian baru BA.4 dan BA.5, tetapi tidak ada puncak. Cuma riak-riak saja. Kita juga melihat sekarang jumlah pasien yang dirawat menurun, kematian juga menurun dan stabil. Ini memang arahnya ke arah endemi," pungkas dr Erlina.



Simak Video "Satgas Covid-19: Kita Perlu Berhati-hati dalam Memaknai Akhir Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(hsa/hsa)