Bandara Bali Utara Dicoret dari PSN, Ekonom: Kabar yang Tidak Bagus

Triwidiyanti - detikBali
Sabtu, 30 Jul 2022 19:00 WIB
Ilustrasi Bandara Bali Utara
Foto: Ilustrasi Bandara Bali Utara (Dok. Pribadi)
Denpasar -

Pengamat ekonomi Bali, Ida Bagus Raka Suardana mengatakan terkait dicoretnya Bandara Bali Utara dari Proyek Strategis Nasional (PSN) menjadi kabar buruk bagi ekonomi Bali. Karena itu, pihaknya mendorong agar bandara tersebut pembangunannya tetap dilanjutkan.

"Tentu ini merupakan kabar yang tidak bagus karena bandara ini untuk masa yang akan datang jika beban di Bali Selatan tidak dalam satu dua tahun inikan. Kalau misalkan pariwisata semakin berkembang tentu harus ada bandara di daerah-daerah itu," ungkap ekonom dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar kepada detikBali dihubungi, Sabtu (30/7/2022).

Ia membandingkan Bali dengan Jakarta yang memiliki dua bandara, sementara Kota Bangkok dua bandara dan Tokyo tiga bandara.


"Tentu itu akan berkurang secara ekonomi perputarannya tentu itu akan menjadi bahan ekonomi yang direncanakan moncernya ekonomi dimasa itu tidak seperti yang diharapkan. Itu akan ada dampak ekonominya kalau misalkan terjadi peningkatan jumlah pariwisata kan rencananya ditargetkan itu 32 juta wisatawan di tahun 2029 datang ke Bali," katanya.

Karena direncanakan demikian, tentunya jika pariwisata berkembang dan wisatawan meningkat, maka kondisi Bandara di Bali Selatan tidak bisa menampung, dan otomatis dengan dicoretnya Bandara Bali Utara dari PSN akan berdampak pada ketimpangan ekonomi antara Bali Selatan dan Bali Utara.

Ditegaskannya, kondisi Bandara Bali Utara yang sebelumnya digemborkan akan segera dibangun hingga kini masih tetap menjadi polemik.

"Itu yang terus menjadi ribut ini yang menyebabkan simpang siur kajiannya, katanya di Bali Barat atau Bali Timur, kan itu tidak jelas mana yang bener mana yang tidak, Pemprov Bali juga tidak mengeluarkan statement yang pas terkait ini, siapa yang akan ini kan itu katanya investor swasta, ada yang mengatakan ini, katanya offshore dan ada yang mengatakan di lepas pantai atau di daratan onshore itu," tandasnya.

Apalagi di barat, dari segi kelayakan katanya sudah lengkap terlebih ada Bandara Wisnu. Hanya saja dari segi kelayakan apakah bisa digunakan untuk pesawat besar, pihaknya tidak mengetahuinya karena ini terkait kelayakan teknis.

Dengan dibatalkannya proyek ini, lanjutnya, otomatis wacana mendatangkan jumlah wisatawan di 2027-2028 sebanyak 15 juta wisatawan, tidak akan terealisasi.

Selain akan berdampak pada berkurangnya ekonomi Bali katanya dicoretnya Bandara Baru Bali Utara, ia menduga ada unsur politisnya.

"Karena sekarang di coret siapa tahu ada pertimbangan lain siapa tahu pertimbangan presiden yang berikutnya kan ini politis juga kan ini detik-detik terakhir," ujarnya.

Di sisi lain, ekonomi Bali tergantung dari pariwisata apalagi saat ini Bali sangat tergantung pada ekonomi tersier seperti jasa pariwisata, bukan primer dan sekunder.

"Di Bali seperti itu 68,2 persen dari tersier dan 52 persennya sumbangan dari pariwisata," katanya seraya menegaskan bahwa pembangunan bandara di Bali Utara tetap harus dilanjutkan.

"Iya harus jadi ini kan sudah crowded terlepas lokasinya dimana ya harus dibangun itu," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencoret sebanyak 8 proyek dari daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Salah satu proyek yang tak lagi masuk dalam daftar PSN tersebut adalah pembangunan Bandara Bali Utara.

Hal itu diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Wahyu Utomo. Dijelaskan, hal ini akan diatur oleh Permenko Nomor 9 Tahun 2022.

"Itu sudah diberi warning perpanjangan, tapi tidak ada progress sehingga dikeluarkan," kata Wahyu Utomo, Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian dalam konferensi persnya, Selasa (26/7/2022) dikutip dari detikTravel.

Untuk diketahui, Bandara Bali Utara sebenarnya sudah masuk dalam perencanaan pemerintah sejak lama. Bahkan, proyek tersebut ditargetkan sudah dapat beroperasi pada 2024. Namun demikian, hingga kini pengadaan lahan tak kunjung terselesaikan.

Dilansir dari detikFinance, Wahyu menjelaskan bahwa Presiden Jokowi menginstruksikan agar proyek yang tidak mengalami progres untuk dikeluarkan dari PSN. Proyek tersebut tetap akan dilanjutkan, hanya saja tidak lagi menjadi prioritas PSN.

"Bukan berarti proyek tersebut tidak dikerjakan, tapi pace-nya akan berbeda. Karena banyak masalah yang menyebabkan butuh effort lebih besar sehingga 2024 tidak terselesaikan," pungkas Wahyu.

Untuk diketahui, PT BIBU adalah perusahaan penggagas pembangunan Bandara Internasional Bali Utara yang lokasinya di pesisir pantai (off shore) dan berada di wilayah Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Sedangkan rencana pembangunan bandara tersebut akan dikerjakan oleh China Construction First Group Corp. Ltd (CCFG). CCFG sendiri adalah anak perusahaan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 'raksasa' di Negeri Tirai Bambu, China State Construction Engineering Corp. Ltd (CSCEC).

Perusahaan asal China itu memiliki rekam jejak yang mumpuni dalam pembiayaan dan pembangunan di bidang konstruksi dan telah berpengalaman dalam menangani berbagai proyek pembangunan besar. CCFG juga siap mendanai proyek pembangunan bandara di Bali Utara itu dengan skema turn key project.

Dilansir dari detikTravel, Bandara Internasional Bali Utara nantinya akan memiliki runway yang panjangnya 3.600 meter dan lebar 45 meter. Bandara ini dapat didarati oleh pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777.

Adapun kapasitas terminalnya dapat menampung hingga 50 juta penumpang/tahun. Sementara terminal kargo memiliki kapasitas hingga 110.000 ton/tahun. Bandara ini juga telah melakukan kolaborasi dengan perusahaan pengembang teknologi berbasis AR/VR, mengadopsi teknologi digital metaverse



Simak Video "Masih Pakai Gaya Lama, Jokowi Usul Struktur Ditjen Imigrasi Dirombak! "
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)