Ahli Bedah AS Sukses Transplantasi Jantung Babi ke Pasien Mati Otak

tim detikHealth - detikBali
Rabu, 13 Jul 2022 16:54 WIB
Ilustrasi Babi
Ilustrasi babi. Foto: Getty Images/iStockphoto
Bali -

Transpantasi jantung babi kepada dua orang dengan kondisi mati otak berhasil dilakukan ahli bedah di New York University. Keberhasilan transplantasi jantung babi ke manusia ini diharapkan bisa mengatasi kekurangan organ di masa depan.

Kondisi jantung pun berfungsi normal usai dilakukan transplantasi dari babi ke manusia. "Jantung berfungsi normal, tanpa tanda-tanda penolakan selama percobaan tiga hari pada bulan Juni dan Juli," kata mereka pada konferensi pers, Selasa (12/7/2022), seperti dilansir dari detikHealth.

Riset ini melanjutkan penelitian sebelumnya, di mana pria 57 tahun menjadi orang pertama yang menjalani prosedur transplantasi jantung babi di University of Maryland. Namun, eksperimen tersebut gagal dan pasien meninggal dunia. Alasan kegagalan transplantasi jantung tersebut gagal juga masih belum jelas.


"NYU mendapatkan jantung babi yang direkayasa Revivicor Inc dan menyaringnya dari virus menggunakan protokol pemantauan yang ditingkatkan," kata para peneliti, dikutip dari Reuters.

Jantung tidak menunjukkan bukti adanya virus babi yang disebut porcine cytomegalovirus yang terdeteksi dalam darah pria Maryland. Sebelumnya, porcine cytomegalovirus diyakini menjadi salah satu penyebab kematiannya.

Babi memiliki empat modifikasi genetik untuk mencegah penolakan dan pertumbuhan organ abnormal, enam lainnya untuk membantu mencegah ketidakcocokan antara babi dan manusia. Peneliti NYU juga mentransplantasikan ginjal babi ke dua orang dengan kondisi mati otak pada tahun 2021. Kini, mereka meyakini xenotransplantasi lebih aman pada pasien mati otak daripada pasien hidup.

"Pengujian yang lebih sering memberikan detail yang luar biasa. Kami mampu secara real time untuk menangkap semua yang terjadi selama periode 72 jam itu," kata Dr Robert Montgomery, direktur Institut Transplantasi Langone NYU, dan penerima transplantasi jantung di NYU.

Pengadaan, transportasi, operasi transplantasi, dan imunosupresi semuanya dilakukan dengan cara yang sama seperti pada transplantasi jantung manusia pada umumnya, kata para peneliti.

"Tujuan kami adalah untuk mengintegrasikan praktik yang digunakan dalam transplantasi jantung sehari-hari yang khas, hanya dengan organ bukan manusia yang akan berfungsi normal tanpa bantuan tambahan dari perangkat atau obat-obatan yang belum teruji," kata Dr Nader Moazami, Direktur Bedah Transplantasi Jantung di NYU Langone.

"Eksperimen 72 jam menghasilkan data awal, meninggalkan banyak pertanyaan yang harus dijawab sebelum memulai uji coba jantung babi manusia," tambahnya.



Simak Video "Pasien Pertama Penerima Cangkok Jantung Babi Meninggal, Ini Kata Ahli"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)