Sisi Lain VWD 2022: Komunitas Vespa Ekstrem Pantang Ucap Minta Uang

Vespa World Days 2022 Bali

Sisi Lain VWD 2022: Komunitas Vespa Ekstrem Pantang Ucap Minta Uang

Miechell Octovy Koagouw - detikBali
Senin, 13 Jun 2022 07:27 WIB
Komunitas Vespa ekstrem dari Bogor, Jawa Barat, yang sedang memperbaiki mesin di Pantai Pandawa, Kutuh, Kuta Selatan, Minggu (12/6/2022).
Komunitas Vespa ekstrem dari Bogor, Jawa Barat, yang sedang memperbaiki mesin di Pantai Pandawa, Kutuh, Kuta Selatan, Minggu (12/6/2022). (Foto: Miechell Octovy Koagouw/detikBali)
Badung -

Helatan akbar Vespa World Days (VWD) 2022 telah selesai digelar di Nusa Dua, Bali (9-12 Juni 2022). Namun, ada cerita dan sisi-sisi lain yang menarik dari para penghobi Vespa. Salah satunya adalah pantangan mengucapkan 'minta uang' oleh anggota komunitas Vespa ekstrem yang kerap menunggangi motor berbentuk nyeleneh. Mereka memiliki semacam kode rahasia, yakni kata 'bolehlah'.

"Bolehlah, Oom," demikian anggota komunitas Vespa ekstrem berkata ketika membutuhkan bantuan.

Hal itu terungkap di hari terakhir VWD 2022, Minggu (12/6/2022), di camping ground kawasan Pantai Pandawa, Kutuh, Kuta Selatan, Badung. Berawal ketika sebuah Vespa ekstrem berkapasitas delapan orang menaiki jalan menanjak menuju gerbang keluar Pantai Pandawa.


Sekilas, kendaraan itu tak terkesan seperti motor. Setiap sisi-sisinya dipasangi tiang-tiang bambu yang digantungi beberapa botol bekas. Bentuknya ceper, lebar, rodanya banyak. Kendaraan bermesin tiga yang dikemudikan pemuda bertatto itu tampak melaju pelan dan berjuang menaklukkan tanjakan cukup terjal.

"Lanjut?" seorang rider Vespa tua berteriak kepada si pengemudi.

"Lombok. Bolehlah," sahut si pengemudi bertatto.

Sejurus kemudian, penunggang Vespa tua itu menghampiri dan merogoh sesuatu dari kantong jaket. Ia melempar bungkus rokok berisi tiga batang dan selembar uang pecahan lima ribu rupiah.

Turun ke bawah, sebuah Vespa ekstrem bermesin ganda kapasitas lima orang turun perlahan akibat mati mesin. Ketika sampai di bawah, tepat di bundaran patung Pantai Pandawa, mereka berhenti dan tampak mengutak-atik mesinnya. Bersamaan dengan itu, muncul Vespa tua yang dikemudikan pemuda berambut panjang.

"Kenapa?" tanya rider Vespa tua.

"Masalah busi. Bolehlah om," jawab pengemudi Vespa ekstrem.

Rider Vespa tua itu langsung menghampiri, disambut perkataan singkat dari pengemudi Vespa ekstrem, "Obeng," ucapnya.

Pengemudi Vespa tua bernama Sampur itu lantas mengeluarkan sebatang obeng dari sebuah kotak yang tergantung di sisi kanan kendaraannya. Sampur merupakan salah satu anggota komunitas Vespa dari Ponorogo, Jawa Timur. Sedangkan si pengemudi Vespa ekstrem bersama teman-temannya merupakan anggota komunitas Vespa ekstrem asal Bogor, Jawa Barat.

"Ini teman-teman dari Bogor, kami kenal di sini (Pantai Pandawa, red). Lalu mengenai pertanyaan mas tadi soal kata 'bolehlah', itu memang kode kami semua. Artinya meminta bantuan apapun itu bentuknya. Sesama kami sudah mengerti kode itu dan pasti akan saling menghampiri," ujarnya kepada detikBali di Pantai Pandawa, Minggu (12/6/2022).

Para rider Vespa ekstrem, menurut Sampur, pantang mengeluarkan kalimat 'minta uang', 'minta makan dan minum', atau 'minta bensin'. Jika mereka mengatakan 'bolehlah' atau 'bolehlah om' dan tidak ada sesama rider maupun masyarakat umum yang merespons, mereka hanya diam sambil menunggu keajaiban tanpa memaki, melepas umpatan, atau hal tak pantas lainnya.

Saat asyik berbincang dengan Sampur, tiba-tiba sebuah mobil pribadi menepi turun seorang pemuda berkulit putih meminta izin untuk mengambil foto pengemudi Vespa ekstrem. Usai mendapat apa yang diinginkan, pemuda itu berterima kasih dan balik badan kembali ke mobilnya.

"Bolehlah Oom," ucap pengendara Vespa ekstrem.

Mendengar itu, pemuda yang naik mobil berpaling sembari tersenyum sesaat, lantas merogoh sesuatu dari saku celana pendeknya. Selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah diberikannya kepada salah satu penumpang Vespa ekstrem.

"Beli bensin ya bro, hati-hati di jalan," ujar pemuda tersebut tak lupa berpamitan lagi untuk kedua kalinya.

Tak lama sepeninggal pemuda bermobil, akhirnya mesin Vespa ekstrem komunitas asal Bogor itu menyala. Salah satu dari mereka kemudian menghampiri Sampur untuk mengembalikan obeng dan pamit melanjutkan perjalanan.

Kami Bukan Gembel

Keberadaan komunitas-komunitas Vespa ekstrem memang kerap menjadi perhatian publik. Mereka mengendarai motor modifikasi yang terkesan nyeleneh. Ada yang seakan membawa sampah, botol-botol bekas, hingga rongsokan saat berkendara di jalan raya. Tak hanya itu, penampilan sang pengendara Vespa ekstrem juga acap dicap sebagai gembel atau gelandangan.

Hal itu diakui oleh Aji Sogol Vespa, salah satu anggota Comunitas Roso Mempesona atau disingkat Corona asal Jember, Jawa Timur. Aji pun mengakui perjalanan mereka naik Vespa ekstrem memang terkesan menggelandang di jalanan. Namun, ia sedih jika ada tudingan miring yang menyebut mereka gelandangan atau gembel.

"Saya sudah dengar tudingan-tudingan seperti itu, tapi gaya perjalanan kami memang begini. Istilahnya apa adanya saja hingga sampai tujuan. Tidur dan istirahat di mana saja, makan tidak teratur, kadang habis uang, bermasalah mesin. Tapi kami bukan gembel atau gelandangan. Sedih dengan tudingan itu tapi hadapi saja dengan senyuman," ucapnya saat ditemui detikBali di kawasan Jalan Ngurah Rai menuju Nusa Dua, Bali, Jumat (10/9/2022).

"Jadi gaya kami memang begini, tapi kami bukan gembel, gelandangan, atau sejenisnya. Anak Vespa ekstrem itu petualang jalanan, sebutlah kami demikian," ujarnya.



Simak Video "Melihat Wujud 'Evolusi' Vespa di Museum Vespa World Day 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/iws)