Selama lebih dari dua dekade, Aiptu Veronika Kolidin (43) diam-diam mengabdikan dirinya untuk anak-anak yatim di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak 4 Oktober 2004, polwan yang bertugas di Satintelkam Polres Sikka itu menyekolahkan puluhan anak yatim, membantu panti jompo, hingga membangun rumah layak huni bagi lansia.
Warga Dusun Apinggoot, Desa Umagera, Kecamatan Kewapante, itu telah menjalani kegiatan sosial tersebut selama 22 tahun. Puluhan anak sudah merasakan bantuan pendidikan dari tangan Veronika.
"Untuk tiga tahun terakhir sekitar 20 orang dan bervariasi dari SD sampai perguruan tinggi. Bergerak di bidang pendidikan yakni pembayaran keuangan sekolah, bantuan seragam sekolah, sepatu, kaus kaki, buku tulis, peralatan tulis, buku paket, pakaian olahraga peralatan olahraga, untuk siswa SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi," ujarnya saat dikonfirmasi detikBali, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain membantu pendidikan anak yatim, Veronika juga rutin menyalurkan bantuan bagi panti jompo. Bantuan tersebut berupa sembako seperti beras, jagung giling, telur ayam, gula, teh, sabun mandi, sabun cuci, serta pakaian, sandal, dan peralatan dapur.
Ia juga memberikan perlengkapan rumah tangga lain seperti ember, piring, mangkuk, gelas, cerek air minum, mok, senduk, baskom, pisau dapur, serbet, hingga springbed, bantal, sprei, dan selimut.
Veronika menuturkan biaya pendidikan anak-anak yatim sebagian besar berasal dari gaji dan remunerasi miliknya sebagai anggota Polri. Namun, penghasilan tersebut tidak selalu cukup untuk menanggung kebutuhan mereka.
"Tentunya tidak cukup sehingga saya berjualan kopi, teh jahe, pisang dan ubi goreng sambal terasi sejak tahun 2018 sampai tahun 2024, karena anak-anak tersebut sudah selesai atau tamat sekolah dan ada yang sudah memiliki pekerjaan, ada yang sudah merantau dan berkeluarga, sehingga saya berhenti jualan kopi dan teh," imbuhnya.
Selain membiayai pendidikan anak yatim, Veronika bersama keluarganya juga menginisiasi program pembangunan rumah layak huni bagi para lansia di Kabupaten Sikka.
Keputusan Veronika membantu anak-anak yatim tak lepas dari pengalaman hidup keluarganya yang sederhana. Ia tumbuh dari keluarga petani di Sikka.
"Kami berasal dari keluarga sangat sederhana, kedua orang tua saya adalah petani dan kesehariannya, bapak juga jualan kelapa muda di pasar Geliting atau pasar Bajo atau dikenal dengan Regang Bam bihan Geliting," terangnya.
Veronika mengenang, ketika kelapa dagangan ayahnya tidak laku terjual, buah tersebut sering ditukar dengan kebutuhan pokok.
Kelapa itu kerap dibarter dengan beras satu liter, gula pasir, roti balok, sabun mandi lifebuoy, sabun cuci, sabun ekstra aktif, sabun jari dua atau sabun nusa kelapa dua, serta pakaian rombengan atau pakaian bekas.
Pengalaman masa kecil itulah yang kemudian menumbuhkan tekadnya untuk membantu anak-anak yatim agar memiliki masa depan yang lebih baik.
"Bersekolah sampai selesai dan mendapatkan kehidupan yang layak," pungkasnya.
Raih Tiga Penghargaan
Dedikasi Veronika dalam kegiatan sosial juga mendapat pengakuan. Pada 2022, ia menerima tiga penghargaan dari Kapolda NTT.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai polwan inspiratif, polwan yang berpartisipasi dan inovatif, serta sebagai LO dan interpreter dalam Sidang Umum Interpol.
Ia juga menjadi interpreter dalam pertemuan bilateral antara Polri dan delegasi Kepolisian Jerman, Turki, dan Bulgaria. Veronika diketahui memiliki kemampuan bahasa Inggris, Jerman, dan bahasa Arab.
Veronika berharap masyarakat dapat saling membantu dan bekerja sama untuk meringankan beban warga yang membutuhkan.
"Saling bekerja sama dan membantu sesama kita demi meraih kehidupan yang lebih baik," tandasnya.
(dpw/dpw)










































