2 Polisi Suku Pedalaman di Riau Ujung Tombak Pencegah Kebakaran Lahan

Riau

2 Polisi Suku Pedalaman di Riau Ujung Tombak Pencegah Kebakaran Lahan

Raja Adil Siregar - detikSumut
Selasa, 04 Okt 2022 09:38 WIB
Dua polisi anak Suku Talang Mamak dan pembina mereka.
Dua polisi anak Suku Talang Mamak dan pembina mereka. (Foto: Istimewa)
Pekanbaru -

Bripda Andika Suwanda dan Bripda Anto adalah dua putra asli Suku Talang Mamak yang lolos seleksi Bintara Polri pada 2020 lalu. Keduanya kini menjadi benteng utama dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Anto merupakan buah hati dari pasangan Panggelang dan ibunya Habibun. Ada satu lagi, Andika Swanda anak dari pasangan Tarmizi dan Mini yang sama-sama berasal dari Desa Talang Jerinjing, Rengat Barat di Indragiri Hulu.

Sebelum mengikuti tes calon anggota Polri, keduanya mengikuti pelatihan secara rutin yang dibina langsung Bhabinkamtibmas setempat,Brigadir Komarudin. Keduanya digembleng secara fisik dan non fisik agar dapat mengikuti serangkaian seleksi calon Bintara.


Kedua putera terbaik Suku Talang Mamak itu berhasil mengikuti seluruh tahapan seleksi. Mereka akhirnya dinyatakan lolos melalui rekrutmen program khusus untuk suku pedalaman yang berprestasi sampai ke tingkat nasional.

"Kami waktu tes itu ada empat orang dari Suku Talang Mamak. Cuma setelah lewat beberapa seleksi, hanya kami berdua saja yang lolos," tutur Andika membuka cerita, Selasa (4/10/2022).

Andika tidak memungkiri keberhasilanya melewati tahapan seleksi berkat bantuan Brigadir Komarudin. Sebab, dia dan Anto digembleng sejak masih duduk di bangku SMA oleh Komarudin.

Tekad Andika yang bulat ternyata mampu mengantarkannya sukses menjadi Bintara Polri. Begitu juga Anto yang saat ini justru sama-sama dinas di Polsek Rengat Barat.

"Sejak masih SMA sudah diajak sama Pak Komarudin. Dikasih paham bahwa semua mempunyai hak yang sama, semua dapat menjadi Polri. Akhirnya kami ikut seleksi," katanya.

Setelah lolos pada 2020 lalu, kedua polisi dari suku pedalaman itu ditempatkan di Polda Riau selama 11 bulan. Selanjutnya mereka dimutasi ke Polres Indragiri Hulu sampai kini di Sat Sabhara Polsek Rengat Barat.

Menjadi polisi dari suku pedamanan bagi Andika adalah sebuah amanah. Sehingga peran keduanya sangat penting bagi Suku Talang Mamak yang kini bergantung hidup dari pertanian dan hutan.

Untuk itu, melastarikan hutan dan alam seolah jadi tanggungjawab langsung Anto dan Andika. Hal itulah yang kemudian menjadikannya giat melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan di kawasan hutan adat dan Taman Nasional Tesso Nilo.

"Suku kami, keluarga kami semua hidupnya bergantung sama pertanian dan alam yang ada di sekitar hutan adat. Tentu kebakaran, membuka lahan dengan dibakar ini menadi ancaman," katanya.

Bersama masyarakat pedalaman keduanya mengajak untuk sama-sama menjaga alam dan hutan. Termasuk maraknya perambah hutan yang datang dari luar wilayahnya dan membuka lahan.

"Banyak dari luar datang untuk membuka lahan. Bersama masyarakat adat, inilah yang kita sosialisasikan langsung supaya hutan tidak habis. Jangan lagi ada buka lahan dengan cara dibakar," kata Andika.

Bagi Andika dan Anto, kelestarian kawasan hutan adat dan Taman Nasional Tesso Nilo sangat penting. Sebab selama ini Suku Talang Mamak hidup berdampingan dengan alam yang asri.

Talang Mamak dikenal adalah sekumpulan masyarakat yang terasing dan hidup masih secara tradisional di aliran Sungai Indragiri. Secara keseluruhan, mata pencarian mereka adalah berladang, menyadap karet, dan mengambil hasil hutan nonkayu.

Di samping itu, mereka juga berburu atau menangkap ikan. Namun, kini masyarakat Talang Mamak lebih banyak bertani untuk sumber pencarian dan kehidupannya.

"Dulu masih (pindah-pindah), sekarang sudah menetap. Jadi semua kan sudah berkebun, maka tugas kami mengimbau untuk tidak membuka kebun yang sudah ditetapkan kawasan hutan," kata Andika.



Simak Video "Dramatis! Proses Evakuasi Anak Gajah dari Galian di Riau"
[Gambas:Video 20detik]
(ras/dpw)