Di tengah pesatnya perkembangan makanan modern dan tren kuliner masa kini, jajanan tradisional masih tetap mendapat tempat istimewa di kalangan masyarakat. Salah satunya ialah cakar ayam.
Walaupun namanya terdengar unik, cakar ayam bukanlah makanan yang bahannya dari daging hewan. Tapi, jajanan khas ini terbuat dari ubi rambat yang telah dihaluskan dan kemudian dilelehin gula merah cair. Rasa manis yang khas membuatnya masih digemari hingga kini oleh berbagai kalangan di Kota Medan.
Seorang pedagang cakar ayam di salah satu pasar tradisional Medan, Enjel, mengatakan sejak dulu hingga sekarang cakar ayam masih ada peminatnya. Dia menyebut camilan itu banyak dibeli untuk dikonsumsi saat minum teh atau kopi dan juga untuk oleh-oleh pulang kampung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak dulu sampai sekarang, peminat cakar ayam masih ada. Biasanya dibeli untuk camilan saat minum teh atau kopi, kadang juga dipesan untuk acara tertentu atau dijadikan oleh-oleh saat pulang kampung," kata Enjel, Rabu (6/5/2026).
Enjel yang sudah berjualan kuliner tradisional itu lebih dari 10 tahun menyebut peminat cakar ayam juga datang dari kalangan anak muda. Hal itu karena rasanya manis dan harganya terjangkau.
"Anak-anak muda juga banyak yang suka karena rasanya manis dan harganya terjangkau," sebut Enjel
Enjel menjelaskan, proses pembuatan cakar ayam terbilang mudah, namun memerlukan ketelitian. Ubi rambat yang sudah direbus harus dihaluskan hingga benar-benar lembut, lalu dibentuk secara manual sebelum dilelehin gula merah yang dimasak hingga mengental.
"Yang paling penting itu, keseimbangan antara tekstur ubi dan gula merahnya, harus pas supaya rasanya enak, dan ubinya juga jangan sampai gosong saat dimasak," jelasnya.
Selain diperjualbelikan di pasar tradisional, cakar ayam juga sering hadir dalam berbagai acara keluarga maupun tradisi daerah. Keberadaannya menjadi salah satu bukti kekayaan kuliner lokal yang tetap eksis di tengah perkembangan zaman.
Dengan harga yang ramah di kantong dan cita rasa yang unik, cakar ayam menunjukkan bahwa makanan tradisional masih mampu bertahan dan bersaing. Di tengah dominasi kuliner modern, jajanan berbahan dasar ubi dan gula merah ini tetap menjadi bagian penting dari identitas kuliner masyarakat Medan.
(dhm/dhm)











































