Kata Psikolog soal Pemicu Anak SD Bunuh Ibu di Medan

Finta Rahyuni - detikSumut
Senin, 29 Des 2025 22:26 WIB
Foto: Psikolog forensik Irna Minauli saat konferensi pers di Polrestabes Medan. (Finta Rahyuni/detikSumut)
Medan -

Psikolog forensik Irna Minauli mengatakan bahwa anak kelas 6 SD inisial AI (12) yang tega membunuh ibunya di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), tidak mengalami gangguan mental. Dia pun mengungkapkan hal yang menjadi pemicu AI nekat melakukan aksi tersebut.

Awalnya, Irna mengatakan bahwa AI memiliki kecerdasan yang luar biasa. Bahkan, AI kerap meraih prestasi.

"Dari hasil pemeriksaan psikologis, diketahui bahwa anak itu memiliki kecerdasan yang tergolong superior. Seorang anak yang sangat cerdas, sehingga dengan kecerdasan yang dia miliki, tidak mengherankan kalau dia sering mendapatkan prestasi yang tinggi. Dia juga mampu mempelajari musik, seni, secara otodidak. Itu menunjukkan bahwa dia juga seorang pribadi yang memiliki kecerdasan yang sangat tinggi," kata Irna saat konferensi pers di Polrestabes Medan, Senin (29/12/2025).

Irna mengatakan pihaknya juga telah menganalisis kondisi mental AI. Hasilnya, tidak ditemukan adanya gangguan mental pada AI.

"Kami juga mencoba menganalisis, apakah ada gangguan mental yang biasa terjadi pada kasus-kasus menghilangkan nyawa terhadap Ibu sendiri, misalnya. Umumnya, yang terjadi itu adalah mereka yang mengalami skizofrenia, depresi, atau PTSD (post traumatic stress disorder), misalnya. Dari hasil pemeriksaan, tidak dijumpai adanya gangguan-gangguan mental tersebut, anak tidak mengalami skizofrenia. Jadi, tidak ada halusinasi, tidak ada delusi, dan tidak ada perilaku yang aneh, ya. Itu gugur gangguan skizofrenia pada anak," jelasnya.

"Demikian juga tidak dijumpai adanya PTSD, apakah anak mengalami mimpi buruk, mengalami flashback, ya, lintasan ingatan pada peristiwa tertentu," sambung Irma.

Selain itu, psikolog juga menganalisis soal kemungkinan adanya gangguan perilaku atau conduct disorder pada AI. Gangguan perilaku ini, kata Irna, jika tidak cepat ditangani, maka ada kemungkinan anak menjadi psikopat.

Namun, dari hasil pemeriksaan kepada AI, juga tidak ditemukan gangguan perilaku tersebut.

"Tetapi dalam konteks ini, gangguan perilaku atau conduct disorder juga tidak nampak. Misalnya tidak dijumpai bahwa anak conduct disorder itu sering mereka melanggar aturan. Mereka juga sering melukai binatang atau properti, ya, barang-barang. Itu juga tidak dijumpai pada anak (AI)," jelasnya.

Dia menjelaskan bahwa kondisi emosional AI masih labil dan empati yang belum berkembang karena usianya juga masih muda. Selain itu, AI juga kurang berinteraksi secara sosial.



Simak Video "Video: 43 Adegan Diperagakan dalam Prarekonstruksi Kasus Anak SD Bunuh Ibu"


(fnr/mjy)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork