Tanah PT KAI yang Diserobot Handoko Lie Masih Dikuasai Pihak Lain

Tanah PT KAI yang Diserobot Handoko Lie Masih Dikuasai Pihak Lain

Datuk Haris Molana - detikSumut
Selasa, 27 Sep 2022 12:42 WIB
Mal Centre Point Medan disegel Bobby Nasution
Mal Centre Point saat disegel Pemkot Medan. Mal ini berdiri di atas tanah milik PT KAI. (Datuk Haris Molana-detikSumut)
Medan -

Terpidana kasus penyerobotan tanah PT KAI di Jalan Jawa, Medan, Handoko Lie menyerahkan diri ke Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah enam tahun buron. PT KAI menyebut tanah yang diserobot itu, saat ini masih dikuasai pihak lain.

"Sedangkan kondisi, kan sama seperti kita ketahui masih dalam penguasaan pihak lain," ujar Manager Humas PT KAI Divre I SU, Mahendro Trang Bawono ketika dimintai konfirmasi, Selasa (27/9/2022).

Selain kondisi, untuk status tanah tersebut masih dalam proses secara keperdataan. "Untuk status tanah, masih proses secara perdata," sebut Mahendro.


Sebelumnya, PT KAI sebagai pemilih tanah yang diserobot Handoko Lie akan mengajukan eksekusi ke PN Medan.

"Upaya- upaya yang terus dilakukan untuk mempertahankan aset KAI, salah satunya dengan mengajukan permohonan eksekusi pemulihan hak atas tanah melalui PN Medan," ujar Manager Humas PT KAI Divre I Sumut-Aceh, Mahendro Trang Bawono, Senin (26/9/2022).

Mahendro mengatakan saat ini pihaknya tengah fokus berupaya menyelesaikan aset tanah. Penyelesaian itu diharapkan dilakukan dengan cara-cara yang lebih baik seperti musyawarah.

"Tetapi KAI fokus terhadap penyelesaian permasalahan aset tanah yang saat ini masih terus diupayakan. KAI berharap ke depan ada cara cara yang lebih baik dalam rangka penyelesaian masalah tanah di Medan, seperti cara cara musyawarah untuk mencapai win win solution," sebut Mahendro.

Mengenai proses hukum Handoko Lie, Mahendro menyerahkan sepenuhnya kepada Kejagung. "Untuk proses pidana menjadi ranah penegak hukum untuk memberi statemen," katanya.

Untuk diketahui, Handoko Lie menyerahkan diri ke Kejagung. Handoko sebelumnya divonis 10 tahun penjara.

Kapuspen Kejagung Ketut Sumedana mengatakan, sebelum menyerahkan diri, Handoko Lie sudah buron selama enam tahun. "Terpidana Handoko Lie menyerahkan diri setelah menjadi buron selama enam tahun," ujar Ketut dilansir detikNews, Senin (26/9/2022).

Handoko Lie melarikan diri ke Singapura dan menetap di Malaysia selama 6 tahun. Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejagung melakukan pemantauan terhadap keberadaan terpidana Handoko Lie dan mengimbau agar Handoko mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akhirnya Handoko menyerahkan diri ke Kejagung pada Jumat (23/9).

"Setelah dilakukan komunikasi secara intensif, Terpidana akhirnya bersedia menyerahkan diri dan Tim Tabur Kejaksaan Agung segera menjemput Terpidana sekitar pukul 15.30 WIB," kata Ketut.

Setelah menyerahkan diri, Handoko diperiksa hingga dieksekusi ke Lapas Kelas II-A Salemba untuk menjalani pidana.

Handoko Lie merupakan terpidana dalam perkara mafia tanah yang melibatkan Pj Wali Kota Medan, yang menyerobot lahan milik PT Kereta Api Indonesia (persero) sebanyak 2 blok di Jalan Jawa, Gang Buntu, Medan.

Lahan tersebut kemudian digunakan oleh Handoko Lie untuk membangun properti berupa apartemen, mal, serta rumah sakit. Akibat perbuatannya tersebut, negara dirugikan kurang lebih sebesar Rp 187 miliar.

Handoko dieksekusi berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 1437 K/ Pid.sus/2016, yang menjatuhkan pidana penjara selama 10 tahun dan denda Rp 1 miliar, serta membayar uang pengganti sejumlah Rp 187.815.741.000.



Simak Video "Gelar Open House, Antrean Online Balai Yasa Manggarai Membeludak"
[Gambas:Video 20detik]
(dhm/astj)