Walhi: Pantai Maringgai Dipenuhi Limbah, Pertamina Harus Dihukum

Lampung

Walhi: Pantai Maringgai Dipenuhi Limbah, Pertamina Harus Dihukum

Tommy Saputra - detikSumut
Minggu, 17 Jul 2022 14:31 WIB
Limbah minyak di Pantai Kerangmas, Lampung Timur.
Limbah minyak di Pantai Kerangmas, Lampung Timur. (Foto: Istimewa)
Lampung -

Pantai Kerangmas di Desa Muara Gadingmas, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur dipenuhi limbah minyak berwarna hitam pekat dalam beberapa hari terakhir. Limbah itu ternyata berasal dari kebocoran pipa migas milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatera (PHE OSES).

Wahana Lingkuhan Hidup (Walhi) mempertanyakan keseriusan pemerintah dan penegak hukum dalam mengusut dugaan pelanggaran tersebut. Sebab, pencemaran lingkungan serupa sudah berulang kali terjadi di sana.

Walhi Lampung mencatat, kasus serupa terus terjadi dalam tiga tahun terakhir. Bahkan di tahun 2022 ini saja sudah dua kali terjadi, dimana kejadian pertama terjadi di Maret 2022 lalu.


"Ini merupakan kejahatan luar biasa tetapi kenapa negara seperti pura-pura tutup mata dan tutup telinga terkait persoalan ini. Pemerintah dan aparat penegak hukum jangan seperti ayam sayur yang tidak berdaya," kata Direktur Walhi Lampung, Irfan Tri Musri kepada detikSumut, Minggu (17/7/2022).

Irfan menilai baik pemerintah maupun aparat penegak hukum terkesan melakukan pembiaran.

"Limbah kemarin di Lampung Timur itu sama dengan limbah minyak dalam kasus sebelumnya, artinya bisa saja itu akan terus berulang setiap tahunnya. Jadi dengan bentuk yang sama saya menilai apa yang dilakukan pihak terkait merupakan bentuk pembiaran secara sistematis oleh negara," tegasnya.

Dia menegaskan, pencemaran di Pantai Kerangmas dalam beberapa hari terakhir merupakan kelalaian yang dilakukan oleh PT Pertamina PHE OSES. Dia mendesak pemerintah dan aparat hukum menindak tegas Pertamina.

"Jika Pertamina telah melakukan operasional sesuai dengan Aspek HSSE yang diungkapkan maka tidak mungkin kebocoran tersebut terjadi dan baru setelah beberapa hari dilakukan pemungutan limbah. Seharusnya Pertamina juga memiliki sistem peringatan din terkait potensi kebocoran pipa migas," ujarnya.

"Di dalam regulasi atau undang-undang yang ada, disebutkan bahwa pencemaran lingkungan oleh limbah berbahaya merupakan kejahatan baik disengaja atau tidak, dan itu harus dihukum," tutupnya.

Pertamina Sebut Limbah Minyak Akibat Pipa Bocor

Senior Manager Relations Regional Jawa, Agus Suprijanto membenarkan minyak tersebut berasal dari kebocoran pipa minyak yang berada di dalam laut.

"Iya benar adanya kebocoran pipa. Kami juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Lampung Timur baik Bapak Bupati maupun Dinas Lingkungan Hidup nya," ujarnya ketika dikonfirmasi detikSumut, Sabtu (16/7/2022).

Agus mengklaim bahwa kebocoran tersebut telah ditangani sejak Minggu lalu. Dan limbah yang sampai ke bibir pantai merupakan sisa minyak yang telah menyebar.

"Saat ini upaya yang kami lakukan adalah melokalisir serta menerapkan recorvery. Tim juga menerjunkan 15 armada kapal dan helikopter untuk memantau penyebaran ceceran minyak melalui udara dengan disertai perlengkapan oil boom dan oil skimmer," ujar Agus.

Untuk mendukung proses pembersihan, kata dia. tim juga melakukan simulasi guna mendukung proses pembersihan menyeluruh dan meminimalisir dampak yang dihasilkan.

"PHE OSES dalam operasinya senantiasa patuh pada aspek HSSE dengan mengutamakan perlindungan keselamatan lingkungan dan masyarakat. Segenap upaya maksimal akan kami lakukan untuk membantu masyarakat melakukan pembersihan di lokasi yang terdampak dengan tetap berkoordinasi secara intensif dengan pemangku kepentingan pusat dan daerah," tutupnya.



Simak Video "Menuju Pulau Rehabilitasi Owa-owa di Palangkaraya Kalimantan Tengah"
[Gambas:Video 20detik]
(dpw/dpw)