Bukan Sekadar Barang Tua, Ini Cerita di Balik Warung Lawas

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Rabu, 07 Okt 2026 01:00 WIB
Pemilik Warung Lawas, Wijaya (Foto: Dok. Hafizna Irasa Hasibuan/detikSumut)
Medan -

Kain batik tergantung di salah satu sudut ruangan. Benda-benda lawas memenuhi sejumlah bagian Warung Lawas, berdampingan dengan ornamen dari berbagai daerah di Nusantara. Suasana tempo dulu terasa begitu kuat di tempat yang berada di Medan ini.

Warung Lawas bukan sekadar tempat untuk menikmati makanan. Tempat ini juga menjadi latar bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen, mulai dari foto wisuda, prewedding hingga pernikahan.

Namun, di balik benda-benda lawas yang menghiasi setiap sudutnya, terdapat perjalanan panjang seorang pria bernama Wijaya (58). Kecintaannya terhadap barang-barang tua telah tumbuh sejak ia masih muda, jauh sebelum Warung Lawas berdiri.

Wijaya tidak tumbuh dalam keluarga berada. Ia bahkan hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 3 SD. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus berhenti sekolah dan membantu orang tuanya mencari penghasilan.

"SD kelas 3 aja udah enggak sekolah. Karena biaya hidup dulu, orang tua pun pas-pasan, jadi ya enggak sekolah lagi," kata Wijaya, pemilik Warung Lawas, Selasa 06/10/2026.

Sejak kecil, Wijaya sudah terbiasa dengan kehidupan berdagang. Ia membantu orang tuanya berjualan parutan kelapa yang dilakoninya selama sekitar delapan tahun.

Setelah itu, ia mencoba berbagai pekerjaan lain. Ia pernah mencari genjer dan kangkung untuk dijual, kemudian berjualan sate kerang dan sate jengkol.

Pada era 1980-an, sate jualannya dibawa hingga Taman Ria dan Lapangan Merdeka. Ia masih mengingat masa ketika ongkos angkutan umum Damri hanya sekitar Rp 25.

Perjalanan hidup tersebut berjalan beriringan dengan satu kegemaran yang terus dibawanya hingga dewasa, yakni mengoleksi barang-barang antik.

"Memang dari muda itu udah kepingin. Senang dekor, senang nata," ujarnya.

Kegemaran itu kemudian berkembang ketika Wijaya mulai mengenal komunitas kolektor barang antik. Dari satu teman, ia dikenalkan kepada teman lainnya. Jaringan tersebut membuatnya dapat menemukan barang-barang dari berbagai daerah.

Ada koleksi yang berasal dari Jawa, Nias, Sumbar, Aceh, Bali hingga sejumlah daerah lainnya di Nusantara. Sebagian diperoleh melalui komunitas.

Wijaya mengumpulkan barang-barang tersebut secara perlahan. Sekitar 5 tahun ia menghabiskan waktu untuk mengumpulkan koleksi sebelum akhirnya mewujudkan keinginannya membuat sebuah tempat yang dipenuhi barang lawas.

Ketertarikannya lebih banyak tertuju pada benda-benda primitif. Namun, ia menyadari bahwa mengoleksi benda lawas juga membutuhkan ketelitian. Sebab, menurutnya, ada barang yang sengaja dibuat terlihat tua oleh penjual.

"Kalau primitif pada umumnya memang udah tua itu. Cuma ya hati-hati juga, kadang-kadang barang-barang kayak gini kan bisa ditua-tuakan mereka juga," ujarnya.



Simak Video "Mengunjungi Keindahan Mata Air Bah Tio, Sumatera Utara "


(afb/afb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork