Identitas etnik masyarakat Simalungun disebut mengalami perubahan akibat pengaruh agama dan perubahan sosial. Dalam buku Agama, Perubahan Sosial dan Identitas Etnik: Moralitas Agama dan Kultural di Simalungun, penulis Erond L. Damanik menjelaskan bahwa sebagian masyarakat Simalungun mulai mengidentifikasi diri dengan etnik lain berdasarkan agama yang dianut.
Dalam buku tersebut dijelaskan, masyarakat Simalungun beragama Islam di sejumlah wilayah cenderung mengaku sebagai Melayu. Penulis menyebut pengakuan itu dilakukan untuk membedakan diri dari masyarakat Simalungun lain yang berbeda agama.
"Orang Simalungun beragama Islam misalnya, mengidentifikasi dirinya bukan sebagai orang Simalungun tetapi cenderung mengaku Melayu," tulis Erond dalam bukunya.
Fenomena tersebut disebut banyak ditemukan di wilayah Simalungun bagian bawah seperti Kecamatan Bandar Marsilam, Bandar, Bandar Huluan, Pamatang Bandar, Dolog Batunanggar, Gunung Maligas, Gunung Malela, Jawa Maraja Bah Jambi, Bosar Maligas, Ujung Padang, Tanah Jawa, Hutabayu Raja hingga Siantar.
Menurut penulis, wilayah-wilayah tersebut didominasi masyarakat Jawa dan Melayu beragama Islam sehingga memengaruhi identitas masyarakat Simalungun yang tinggal di kawasan itu. Bahkan, sebagian masyarakat disebut menghilangkan marga demi menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
"Orang-orang Simalungun mengaburkan identitasnya dan memilih mengaku menjadi Melayu karena dianggap lebih 'comfort'," tulisnya lagi.
Simak Video "Video: Menag Nasaruddin Umar Luruskan Pernyataannya Terkait Zakat"
(astj/astj)