Mengenal Onang-onang Tradisi Lisan Masyarakat Mandailing

Mengenal Onang-onang Tradisi Lisan Masyarakat Mandailing

Siti Asyaroh - detikSumut
Sabtu, 16 Mei 2026 09:01 WIB
Tor Tor Onang-onang
Foto: Tor Tor Onang-onang (Dok. Situs Uin Syahada Padangsidimpuan)
Medan -

Nyanyian Onang-onang menjadi salah satu tradisi lisan dari Mandailing. Tradisi ini biasanya hadir dalam pesta adat, terutama pernikahan.

Dalam penelitian berjudul "Nilai Budaya pada Lirik Lagu Nyanyian Onang-onang Suku Batak Mandailing" pada 2024 yang diterbitkan Jurnal Motivasi Pendidikan dan Bahasa dijelaskan bahwa Onang-onang merupakan kesenian tradisional berbentuk sastra lisan masyarakat Batak Mandailing.

"Nyanyian Onang-onang adalah bentuk penyampaian nasehat orang tua kepada anaknya yang bertujuan untuk menanamkan nilai agama, sosial, dan budaya bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari," demikian tertulis dalam jurnal tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Onang-onang berisi cerita tentang perjalanan hidup pengantin. Kisahnya dimulai sejak masih di dalam kandungan hingga akhirnya menikah. Isi nyanyian juga dipenuhi nasehat orang tua kepada anaknya.

Selain itu, Onang-onang menjadi sarana menyampaikan doa, pujian, hingga pesan kehidupan melalui bahasa kiasan dan perumpamaan. Nyanyian ini biasanya diiringi alat musik tradisional seperti gendang, suling, dan ogung.

ADVERTISEMENT

Dalam pelaksanaannya, Onang-onang juga menjadi pengiring tortor pengantin dalam pesta adat Mandailing. Tidak hanya di pernikahan, tradisi ini turut hadir dalam acara penyambutan tamu, syukuran rumah baru, festival budaya, hingga kelahiran bayi.

Pendiri Pusat Informasi dan okumentasi Mandailing, Rizali Harris Nasution mengatakan Onang-onang identik dengan suasana haru dan nasehat kehidupan.

"Nyanyian onang-onang biasanya berhubungan dengan kesedihan atau perpisahan. Bisa juga dinyanyikan di pernikahan tapi biasanya isinya nasehat-nasehat," katanya (12/5/2026).

Menurutnya, tradisi itu masih bertahan sampai sekarang meski tidak lagi digunakan di semua acara adat.

"Tradisi itu masih ada tapi mungkin terbatas di pesta-pesta pernikahan," ujarnya.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads