Getah kemenyan merupakan hasil hutan non kayu terbesar dari Sumatera Utara. Kemenyan digunakan sebagai obat, wewangian dan juga erat dengan nilai sosial, budaya serta penopang ekonomi.
Di tengah masyarakat Batak Toba, kemenyan memiliki makna spiritual yang kuat, tercermin dalam legenda, ritual adat, serta tata cara pengelolaan hutan yang dijaga secara turun-temurun.
Salah satu keluarga yang tumbuh dan besar dari kemenyan, yakni Devi Vebryanti Simanungkalit. Hidup sederhana bersama keluarga, menjaga alam dan mengandalkan getah kemenyan sudah sejak dari lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Devi dikenal dengan sosok yang dekat dengan kemenyan, lantaran kerap kali memposting di akun Tiktoknya tentang edukasi kemenyan. Selain itu, ia sering membagikan keseruannya di hutan kemenyan bersama opung dan keluarga.
Dalam postingan tersebut, tampak Devi menemani opungnya memanjat pohon kemenyan. Biasanya yang memanjat kemenyan ialah pria, namun, kali ini wanita berkulit keriput tapi masih sangat kuat.
"Aku sejak dari kecil telah ikut dengan opung ke hutan. Aku tertarik kehutan karena gak ada tv, udara segar dan alamnya masih lestari," ucap Devi saat diwawancarai detikSumut, melalui telphone selular, Sabtu (25/4/2026).
Devi bercerita mereka sekeluarga merupakan petani kemenyan. Ia katakan, awalnya opung boru (nenek) yang terjun menggeluti kemenyan sejak menikah dengan opung dolinya (kakek).
"Keluarga kami sekeluarga petani kemenyan, awalnya dari opung boru yang saat itu baru menikah dengan umur masih muda. Memilih menjadi petani kemenyan karena keadaan," ucapnya.
Perjuangan hidup dari kemenyan tanpa merusak hutan
Opung dari Devi bernama Rospita Sianturi yang telah berumur 73 tahun. Rospita merupakan sosok pertama kali dikeluarga Devi yang terjun menggeluti sebagai petani kemenyan sejak berumur 17 tahun.
"Opung menikah di umur 17 tahun, pada waktu itu opung dibawa ke hutan oleh opung doli (kakek). Lalu, opung boru liat-liat di hutan kemudian dia merasa bosan jadi ia mencoba menggeluti sebagai petani kemenyan," jelas devi.
Ia sebut, kala itu kedua opungnya tidak ada sedikitpun ketakutan untuk menyadap kemenyan yang tinggi dan dikelilingi pepohonan rapat didekat hutan.
"Setelah opung boru dan opung doli menekuni kemenyan, mereka jadinya terbiasa sendiri-sendiri menyadap hingga memanen kemenyan. Namun, tahun 2006, opung doli telah berpulang kepada Tuhan sehingga opung boru sendirian," ceritanya.
Devi ceritakan, mereka punya dua kampung, kampung yang dekat hutan kemenyan bernama Desa Rura Julu Dolok. Satu lagi yang penduduk ramai yakni Desa Situmeang Hasundutan, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
"Hari Senin opung berangkat ke desa Rura Julu Dolok lalu tinggal dipondok, opung kesana untuk menyadap kemenyan atau panen. Kemudian hari Sabtu pulang ke Desa Situmeang Hasundutan untuk ke gereja atau beli sembako," ucapnya.
Devi mengatakan, jumlah penduduk di Desa Rura Julu Dolok yang dekat ke hutan kemenyan hanya berkisar 20 keluarga. Bahkan, dalam satu kampung itu semua petani kemenyan. Uniknya, hanya opungnya Devi seorang diri perempuan.
Di Sumatera Utara, khususnya di wilayah Tapanuli, kemenyan yang dikenal masyarakat setempat sebagai haminjon (Styrax benzoin Dryand) bukan sekadar hasil hutan, melainkan bagian dari sejarah panjang perdagangan Nusantara.
Pembagian jenis kemenyan di Tapanuli, yakni kemenyan Toba (Styrax benzoin) dan kemenyan Sumatra (Styrax sumatrana). Memiliki aroma harum manis dan sangat diminati baik di pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, memiliki nilai ekonomi tinggi karena kualitas resin stabil dan aromanya kuat.
Proses Menyadap Kemenyan di Kampung Devi
Devi mengatakan, dalam menyadap maupun memanen getah kemenyan tidaklah sembarangan dan punya teknik khusus. Ia sebut tidak mudah menjadi seorang petani kemenyan.
"Teknik khusus panen kemenyan yaitu mangaluak atau dikuliti, lalu ada getahnya mengumpal tapi nggak semua pohon kemenyan bisa menghasilkan getah kemenyan," kata Devi.
Tidak hanya itu, ia juga katakan kemenyan harus dipanjat dan tidak hanya dibawah saja. Devi sebut alat yang digunakan petani kemenyaan disebut palipolang.
"Jadikan kemenyan itu harus dipanjat gak bisa hanya di bawah aja, jadi alat yang digunakan itu palipolang. Nah kalau hutan kemenyan yang dekat dikerjakan oleh opung, sedangkan kemenyan jaraknya 3 jam perjalanan dengan berjalan kaki dikerjakan bapak, bapak uda dan bapak tua," ungkap Devi.
Devi menyebut, opung maupun keluarganya bertahan menjadi petani kemenyan karena pengolahanya gampang dan tidak membutuhkan modal yang besar. Meskipun proses menyadap dan panen harus profesional.
"Opung bertahan karena pengolahannya yang gampang, misalnya bulan 3 hingga 7 menyadap. Kemudian dibiarkan, lalu panen bulan 11 atau 12 artinya sekitar 6 bulan baru bisa panen," jelasnya.
Penyadapan - Panen Kemenyan di Parlilitan Humbang Hansundutan
Untuk diketahui di daerah Parlilitan, Humbang Hasundutan ada proses unik juga yakni mulai dari persiapan, petani memanjat pohon dan membersihkan batang dari lumut menggunakan alat khusus (mangguris).
Sebelum proses penyadapan, ada ritual yang dilakukan masyarakat adat Batak di Humbang Hasundutan. Menyadap getah kemenyan, perlu ritual bermakna menghormati dan menghargai alam.
Sebelumnya dilaksanakan penyadapan di adat Batak Humbas, mereka terlebih dahulu melantukan senandung.
'Parung Simardagul-dagul...Sahali Mamarung, gok apanggok bahul-bahul'.
Itulah senandung atau wujud doa yang dilakukan dua kali, berarti sekali menyadap atau sekali menusuk pohon kemenyan, hasil lebih banyak. Bakul bawan dari kampung penuh berisi sadapan getah kemenyan.
Selain itu, pengerjaan juga harus dengan hati bersih dan adab baik. Mereka percaya, menyadap getah tak boleh berkata kotor agar getah keluar banyak dengan kualitas baik.
Menurut cerita nenek moyang kepercayaan masyarakat adat Batak Toba setempat, kemenyan jelmaan Boru Raja atau gadis anak raja. Hingga dalam menyadap harus sopan dan bersih hati.
Dalam ritual ini, biasanya ada disediakan sesajian diletakkan di depan para petani persis di sebelah sebatang kemenyan muda yang sehat. Petani duduk bersila sambil memanjatkan doa-doa atau dikenal dengan martonggo.
Panjatan doa kepada debata mulajadi nabolon, atau Sang Maha Pencipta melalui leluhur-leluhur yang selalu menemani perjalanan hidup mereka.
Sebelum acara makan bersama, sesajian tersebut diletakkan sejenak di dekat pohon kemenyan. Setelah beberapa menit barulah bisa menyantap sambil berdoa, kemudian makan bersama.
Selanjutnya, proses penyadapan (menutup) yakni kulit pohon dilukai atau ditoreh agar getah keluar. Teknik ini memerlukan keahlian agar pohon tidak mati.
Kemudian, tahapan penantian yakni getah yang keluar didiamkan hingga mengkristal selama kurang lebih 3-4 bulan sebelum bisa dipanen. Lalu, proses panen yakni getah kering yang menempel pada batang dikerok atau diambil setelah itu dikumpulkan dan dijual.
Kemenyan adalah jenis tumbuhan yang perlu pohon pelindung. Ia tak bisa tumbuh sendiri sehingga ketika di pohon kemenyan terasa rindang. Getah kemenyan ada dan pohon tumbuh karena proses alam, tidak bisa dipupuk atau dengan cara lain.
"Kemenyan itu tidak bisa hidup atau tumbuh sendiri, harus didampingi pepohonan lain. Selain itu, pohon kemenyan jarang dipupuk jadi komposnya dari tanaman disekitarnya," tambahnya.
Lebih lanjut, putri Batak lulusan USU itu juga mengatakan ciri-ciri kemenyan bisa disadap harus berbunga agar hasilnya bagus dan berkualitas. Sehingga, ia katakan tidak lah mudah menyadap maupun memanen.
"Ciri kemenyan yang bisa disadap harus berbunga, biar bagus hasilnya dan tidak sembarangan menyadap. Kalau aku pernah menyadap tapi untuk panen hanya melihat saja karena tidak sembarangan nanti kalau salah, opung bisa marah," ceritanya.
Devi katakan, tidak semua orang bisa menyadap dan memanen kemenyan. Jika bersalahan maka akan berdampak buruk, baik kepada pohon maupun hasil panen yang kurang memuaskan.
"Untuk proses menyadap dan memanen tidak sembarangan, jarang orang bisa kecuali sudah berpengalaman. Jika asal- asalan akan berdampak buruk seperti warna, tekstur kurang bagus," ungkapnya.
Ia juga menyampaikan kemenyan dengan kualitas bagus memiliki getah yang banyak, bentuknya keras dan putih. Lalu kemenyan kurang bagus, mengeluarkan getah yang sedikit dan warna kotor kehitaman.
Ia juga menyampaikan, di hutan kemenyan ada rumah pondok sebagai tempat tinggal sementara untuk mereka. Ia katakan opungnya pergi ke hutan sejak pagi hingga sore.
"Sering ikut opung panen, sekitar jam 08.00 pagi kami berangkat ke hutan. Kalau cuaca hujan pulang jam 15.00 WIB atau 17.00 WIB sore," ceritanya.
Ia juga katakan jarak pondok ke hutan sekitar 10 menit, kemenyan jarak 3 jam perjalanan dengan berjalan kaki diurus oleh ayah Devi dan saudara ayahnya. Ia juga menyampaikan, dalam setahun panen hasil getah kemenyan mencapai ratusan kilo.
"Kalau tahun lalu, hasil panen opung sendiri mencapai 100 kilogram. Nah, ketika proses mengarit artinya melepaskan getah dari kulit biasanya dibantu bapak, bapak uda, bapak tua agar lebih cepat. Selebihnya opung yang mengerjakanya," ungkapnya.
Melihat, merasakan perjuangan opung serta keluargnya mengambil kemenyan tanpa merusak hutan. Ia menyadari potensi tersebut, lalu mempromosikan kemenyan di akun Tiktok dan melantumkan storytelling menarik perhatian para penonton.
"Hallo aku Devi Kalid, yang sedang berjuang menjual kemenyan hasil kebun keluargaku," ucap Devi ketika dilihat detikSumut di akun tiktok @devikalit.
Ia katakan, sebelumnya keluarganya mengumpulkan hasil panen kemenyan lalu dijual kepada pembeli. Namun, saat ini Devi merintis mempromosikan getah kemenyan kepada semua kalangan di sosial media.
"Sekarang punya opung dan keluarga dijual kepadaku, untuk harga tergantung kualitas dari getah kemenyan. Jika kualitasnya bagus maka harga semakin mahal," ungkapnya.
Devi utarakan, kemenyan biasanya digunakan untuk rokok lintingan, rokok pribadi, kebutuhan gereja, kebutuhan orang Aceh dan Bali.
Menutup ceritanya, Devi mengatakan meskipun ia memilih pulang kekampung halaman. Ia melihat peluang besar dan percaya akan sukses dari kemenyan.
"Kemenyan memiliki potensi besar dan harganya mahal, sejak November 2025 sudah mempromosikan kemenyan di Tiktok. Aku yakin akan membuahkan hasil dan sukses disuatu saat nanti," pungkas Devi.
Itulah detikers, salah satu putri Batak asal Taput menggeluti bisnis getah kemenyan. Namun, tidak merusak alam maupun hutan. Tidak hanya itu, ia juga melihat peluang bisnis dengan berjualan di aplikasi Tiktok.
Nah, bagi detikers yang suka denga aroma terapi dari kemenyan bisa langsung kontak Devi Kalit di akun Tiktoknya. Bahkan, kalian juga bisa belajar lebih dalam tentang kemenyan. Semoga artikel ini bermanfaat ya detikers!.
Simak Video "Momen Ratusan Tamu Delegasi WWF ke-10 Disambut Ritual Adat-Tarian Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(afb/afb)











































