Di sebuah sudut kota Medan, jejak sejarah itu masih berdiri-di bangunan tua, di kawasan perdagangan, hingga dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Namun, kisah kehadiran etnis Tionghoa di Sumatera Timur bukanlah cerita yang dimulai dari perkebunan atau kolonialisme semata.
Jauh sebelumnya, hubungan itu telah terjalin lewat laut. Dari Selat Malaka ke Pesisir Sumatera
Sejak abad ke-15, Selat Malaka telah menjadi jalur vital perdagangan dunia. Kapal-kapal dari Tiongkok datang dan pergi, membawa barang sekaligus membangun relasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kajian Journal of Southeast Asian Studies, disebutkan bahwa interaksi awal antara pedagang Tionghoa dengan wilayah Sumatera telah berlangsung sejak masa itu. Ekspedisi Zheng He menjadi salah satu penanda penting hubungan maritim antara Tiongkok dan Nusantara.
Namun, pada fase ini, kehadiran mereka masih bersifat sementara. Mereka datang sebagai pedagang-bukan untuk menetap.
Ketika Tanah Deli Menjadi Magnet
Segalanya berubah ketika wilayah Deli berkembang menjadi pusat perkebunan tembakau pada abad ke-19. Tanah yang subur dan permintaan global membuat kawasan ini menjadi magnet ekonomi baru. Masalahnya sederhana: tenaga kerja.
Sejarawan Dirk Aedsge Buiskool menyebut bahwa penduduk lokal tidak tertarik bekerja di perkebunan milik kolonial.
"Di sini tidak ada tenaga kerja lokal yang mau bekerja di perkebunan, karena orang Melayu dan Batak sudah punya mata pencaharian sendiri. Karena itu, pihak perkebunan mendatangkan pekerja dari luar, terutama dari China dan India," ujarnya.
Apa yang terjadi kemudian adalah arus migrasi besar-besaran-yang kelak mengubah wajah Sumatera Timur.
Datang karena Terdesak
Bagi para pendatang dari Tiongkok, keputusan untuk berlayar ke Sumatera bukanlah pilihan mudah. Mereka didorong oleh kondisi yang keras di negeri asal.
"Di China saat itu banyak orang hidup dalam kesulitan, kelaparan, bahkan perang. Karena itu mereka bersedia datang ke Deli untuk bekerja," kata Buiskool.
Dalam kajian sejarah migrasi, kondisi ini dikenal sebagai push factor-dorongan yang memaksa seseorang meninggalkan tanah kelahirannya.
Tiga Tahun yang Mengikat
Namun, harapan akan kehidupan yang lebih baik sering kali berbenturan dengan kenyataan di perkebunan. Para pekerja Tionghoa umumnya terikat dalam sistem kuli kontrak.
"Kuli harus menandatangani kontrak kerja selama tiga tahun dan tidak boleh pergi. Jika melanggar, mereka bisa ditangkap," jelas Buiskool.
Bagi sebagian sejarawan seperti Jan Breman, sistem ini merupakan bentuk eksploitasi yang membatasi kebebasan buruh dan mendekati kerja paksa.
Di tengah sistem yang keras itu, ribuan orang tetap datang-sebuah ironi dari dunia kolonial yang menawarkan peluang sekaligus penindasan.
Dari Kuli ke Saudagar
Namun sejarah tidak pernah berjalan satu arah. Di balik kisah penderitaan, muncul pula cerita tentang keberhasilan.
Sebagian kecil komunitas Tionghoa berhasil keluar dari lingkaran buruh dan masuk ke sektor perdagangan serta bisnis. Mereka memanfaatkan celah dalam sistem ekonomi kolonial.
"Pemerintah kolonial tidak punya kapasitas untuk mengelola semuanya, sehingga mereka memberikan monopoli kepada pihak swasta, termasuk pengusaha Tionghoa," ungkap Buiskool.
Dari sinilah lahir tokoh-tokoh besar, salah satunya Tjong A Fie.
Ia dikenal bukan hanya sebagai pengusaha sukses, tetapi juga dermawan yang membangun fasilitas sosial-dari rumah ibadah hingga bantuan bagi masyarakat lintas etnis.
Fenomena ini, menurut Leonard BlussΓ© dalam jurnal Archipel, menunjukkan bagaimana diaspora Tionghoa di Asia Tenggara mampu bertransformasi dari buruh migran menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan.
Warisan yang Tak Pernah Hilang
Hari ini, jejak sejarah itu masih terasa di Medan dan sekitarnya. Tidak hanya dalam bentuk bangunan atau nama jalan, tetapi juga dalam struktur ekonomi dan keberagaman budaya yang hidup berdampingan.
Dari pelaut abad ke-15 hingga kuli kontrak abad ke-19, perjalanan etnis Tionghoa di Sumatera Timur adalah cerita tentang bertahan, beradaptasi, dan membangun-di tengah sistem yang tidak selalu berpihak.
Sebuah sejarah yang tidak hanya membentuk masa lalu, tetapi juga menjelaskan wajah Sumatera Utara hari ini.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom
