Mengenal Balayar Satujuan Batambat Satangkahan, Semboyan Kota Tanjungbalai

Mengenal Balayar Satujuan Batambat Satangkahan, Semboyan Kota Tanjungbalai

Siti Asyaroh - detikSumut
Kamis, 16 Apr 2026 07:01 WIB
Kota Tanjungbalai
Foto: Kota Tanjungbalai (Dok. Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia)
Medan -

Balayar Satujuan Batambat Satangkahan merupakan semboyan khas masyarakat Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut). Semboyan ini menggambarkan pentingnya kebersamaan dan tujuan yang sama dalam kehidupan warga.

Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara, M. Azis Rizky Lubis menjelaskan bahwa secara harfiah "Balayar Satujuan" berarti berlayar dengan satu tujuan, sementara "Batambat Satangkahan" dimaknai sebagai berlabuh di tempat tambatan yang sama. Makna sederhana ini, kata dia, menyiratkan pentingnya arah dan tujuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat.

Azis mengungkapkan bahwa tidak banyak catatan rinci terkait awal mula penciptaan semboyan tersebut. Namun, semboyan ini diketahui lahir dari sosok seniman bernama Djalaut Agustinus Hutabarat atau yang akrab disapa Wak Uteh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semboyan ini lahir dari pengalaman empirik yang dialami oleh Wak Uteh. Ia melihat bahwa, meskipun masyarakat Kota Tanjungbalai itu majemuk, mereka tetap dapat hidup rukun dalam satu daerah," jelasnya, Rabu (15/4/2026).

ADVERTISEMENT

Lebih jauh, Azis menekankan bahwa semboyan ini bukan sekadar ungkapan tradisional. Ia menyebutnya sebagai artefak kultural yang mengkristalkan pengalaman historis, struktur sosial, serta kesadaran kolektif masyarakat pesisir.

"Ini bukan hanya sekedar ungkapan yang bersifat tradisional, melainkan memiliki hal yang lebih mendalam dari segi sistem makna, sebagai alat integrasi sosial dan menjadi medium reproduksi identitas sejarah Tanjungbalai yang panjang," lanjutnya.

Kata Azis, secara filosofis, semboyan tersebut mengandung sejumlah nilai utama. Pertama, persatuan dalam keberagaman. Masyarakat dengan latar belakang berbeda diarahkan untuk tetap bergerak menuju tujuan yang sama, mencerminkan harmoni sosial di kota pelabuhan yang terbuka terhadap berbagai pengaruh luar, bahkan sejak sebelum masa kolonial.

Kedua, solidaritas dan gotong royong. Dalam tradisi maritim, aktivitas berlayar tidak bisa dilakukan secara individu. Kerja sama menjadi kunci, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam menghadapi risiko dan menikmati hasil secara bersama-sama.

Ketiga, stabilitas dan kepastian arah sosial. "Batambat Satangkahan" mengandung pesan agar masyarakat memiliki pegangan nilai yang sama dan tidak tercerai-berai oleh konflik kepentingan.

Terakhir, semboyan ini juga menegaskan identitas maritim Tanjungbalai sebagai kota pelabuhan yang menjadi bagian penting dalam jaringan perdagangan di kawasan Selat Malaka. Nilai-nilai tersebut menjadikan semboyan ini tetap relevan sebagai pedoman hidup masyarakat hingga kini.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(dhm/dhm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads