Tradisi martarombo, yakni kemampuan menelusuri dan menyebutkan silsilah dalam masyarakat Batak, kini mulai jarang ditemui di kalangan generasi muda.
Padahal, tradisi ini sejak lama menjadi bagian penting dalam mengenali hubungan kekerabatan dan menentukan posisi seseorang dalam struktur sosial masyarakat Batak.
Antropolog dari USU, Rytha Tambunan, M.Si menjelaskan bahwa marga dalam masyarakat Batak bukan sekadar nama, melainkan penanda asal-usul yang merujuk pada satu nenek moyang.
"Marga itu adalah keturunan, dari satu nenek moyang," ujarnya.
Menurutnya, kemampuan martarombo sangat penting karena berkaitan langsung dengan identitas seseorang dalam komunitasnya.
"Kalau identitas tidak jelas, orang tidak tahu asal-usulnya," jelasnya.
Dalam praktiknya, martarombo digunakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan, terutama saat bertemu sesama orang Batak. Melalui penyebutan marga dan garis keturunan, seseorang dapat langsung mengetahui posisi relasi, apakah sebagai saudara semarga, pihak hula-hula, atau boru.
Tradisi ini juga berkaitan erat dengan sistem sosial Dalihan Na Tolu, yang mengatur hubungan antarindividu dalam masyarakat Batak.
Namun, Rytha menilai, kemampuan menelusuri silsilah tersebut kini mulai berkurang, terutama di kalangan generasi muda yang hidup di tengah arus modernisasi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa marga tetap menjadi penghubung utama dalam membangun relasi sosial, bahkan di luar daerah asal.
"Marga itu komunitas. Dari situ orang bisa saling mengenal dan terhubung," katanya.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan dalam cara generasi muda memahami identitas budaya mereka. Jika dahulu martarombo menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki, kini tradisi tersebut mulai jarang dipraktikkan secara mendalam.
Meski begitu, keberadaan marga masih menjadi jembatan yang menghubungkan individu dengan akar budayanya, sekaligus menjaga keterikatan sosial dalam masyarakat Batak.
Simak Video "Video KuTips: Susah Tidur Habis Liburan? Coba Metode Pernapasan 4-7-8 Deh!"
(afb/afb)