Jejak Aru di Tanah Karo, Kerajaan yang Nyaris Terlupakan

Sumut in History

Jejak Aru di Tanah Karo, Kerajaan yang Nyaris Terlupakan

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Kamis, 26 Mar 2026 21:40 WIB
Ilustrasi Kerajaan Aru
Foto: Ilustrasi Kerajaan Aru (Dok.Gemini AI)
Karo -

Di pesisir timur Sumatra, di jalur sibuk yang kini dikenal sebagai Selat Malaka, pernah berdiri sebuah kekuatan besar yang nyaris hilang dari ingatan sejarah yakni Kerajaan Aru.

Nama Aru jarang muncul dalam buku-buku sejarah populer. Ia kalah gaung dari Malaka atau Samudra Pasai. Padahal, berabad-abad lalu, Aru adalah penguasa jalur perdagangan penting yang menghubungkan dunia.

"Aru adalah sebuah kerajaan maritim pada abad 16-17 Masehi. Setidaknya, Aru memainkan peran penting di Selat Malaka yang disebut silk maritime road yang menghubungkan Asia Tenggara," ujar Antropolog Unimed, Prof. Dr. Erond Litno Damanik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Lhokseumawe hingga Barumun, wilayah kekuasaan Aru terbentang luas. Ia bukan sekadar pelabuhan kecil, melainkan entitas politik yang menguasai lalu lintas perdagangan di kawasan strategis.

"Aru tampil sebagai penguasa mulai Lhokseumawe, Sumatra Timur hingga Barumun. Ini menandakan bahwa Aru sebuah entitas politik yang berwilayah di Sumatra Utara," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Jauh sebelum konsep negara modern dikenal, Aru telah memiliki sistem kekuasaan sendiri. Dalam kajian sejarah, bentuk itu disebut chiefdom.

"Chiefdom adalah 'kepala pemimpin', yakni organisasi politik yang bersifat turun-temurun dan egaliter," jelas Erond.

Di dalamnya, kekuasaan diwariskan, wilayah dikelola, dan pemimpin-pemimpin lokal berada dalam satu struktur yang terorganisir.

"Ini kesatuan kelompok yang menetap, punya pewarisan tahta yang jelas, dan memiliki pemimpin bawahan di berbagai wilayah," sambungnya.

Hari ini, jejak Aru tidak lagi berdiri dalam bentuk istana megah. Ia tersebar dalam fragmen: pecahan keramik, dirham, hingga sisa benteng.

Di antara berbagai lokasi yang diperdebatkan, Deli Tua muncul sebagai titik yang paling kuat.

"Memang ada tarik-menarik untuk menyebut lokasi Aru, baik di Deli Tua, Kota Cina maupun Teluk Aru. Namun hingga saat ini, bukti paling kuat adalah Deli Tua," kata Erond.

"Ada benteng, ada dirham, ada fragmen keramik dan tembikar. Itu semua menguatkan dugaan kalau Aru," imbuhnya.

Lebih dari sekadar artefak, cerita-cerita rakyat pun hidup di sana. "Folklor Aru pun lebih kuat di Delitua, yakni dalam komunitas Karo," ungkapnya.

Di masa jayanya, Aru bukan wilayah terpencil. Ia terhubung dengan dunia.

"Aru menguasai jalur maritim sutra di Selat Malaka yang sudah berdagang dengan dunia internasional seperti China," ujarnya.

Catatan sejarah juga menyebut kedatangan armada Zheng He ke wilayah ini.

"Admiral Zheng He mengunjungi Aru sebanyak tiga kali, pada 1413, 1417, dan 1433," ungkapnya.

Dari India hingga Persia, jejak perdagangan itu masih bisa ditelusuri dari hasil ekskavasi.

Namun, Aru bukan hanya soal kejayaan. Ia juga menyisakan perdebatan panjang: siapa sebenarnya Aru?

Dalam banyak kajian, Aru kerap dikaitkan dengan Melayu-karena letaknya di pesisir dan hubungannya dengan kesultanan Islam.

Namun, pandangan berbeda muncul dari buku Hubungan Kerajaan Aru dan Peradaban Karo yang menempatkan Aru dalam konteks Karo. Erond termasuk yang meyakini hal itu.

"Hingga sejauh ini, Aru lebih dekat dengan Karo," tegasnya.

Ia menunjuk pada legenda yang masih hidup hingga kini. Salah satunya soal Putri Hijau.

"Cerita Putri Hijau misalnya, lebih jelas di Karo dengan klan Sembiring. Saya lebih meyakini bahwa Aru adalah Karo, sebab semua dataran rendah Langkat, Binjai, dan Deli adalah wilayah Karo," ungkapnya.

Bahkan, sebuah simbol perlawanan Meriam Puntung menjadi bagian dari narasi ini.

"Meriam Puntung itu ditemukan Elisa Netscher pada 1865 di Deli Tua. Itu wilayah Karo. Satu tinggal di Deli Tua dan digeser ke Istana Maimun, satu lagi ke Siberaya, Karo," paparnya.

Namun seperti banyak kerajaan lain, Aru tidak abadi. Awal abad ke-17 menjadi titik balik. Kekuatan baru muncul, terutama dari Aceh.

"Kehancuran Aru pada 1612 identik dengan serangan Aceh ke Delitua. Ini adalah akhir Aru," jelas Erond.

Setelah itu, Aru perlahan menghilang, digantikan oleh kekuatan baru seperti Kesultanan Deli. Meski sempat menjadi yang tersebesar, Aru terlambat ditemukan peneliti.

"Aru mulai diteliti pada 2009-2011 melalui ekskavasi oleh Balai Arkeologi Medan dan lembaga lainnya," ujarnya.

"Sebelum itu, Malaka dan wilayah lain sudah lebih dulu ditulis dan dipopulerkan," paparnya.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads