Di tepi aliran Sungai Wampu yang tenang, berdiri sebuah bangunan dengan kubah hitam yang seolah menyimpan ribuan cerita tentang masa keemasan Langkat. Masjid Raya Stabat, yang secara resmi dikenal sebagai Masjid Maimun Stabat, adalah monumen kesalehan Sultan Abdul Aziz Djalil Rahmad Shah yang diresmikan pada awal abad ke-20.
Di bulan suci Ramadhan, masjid ini bukan sekadar tempat bersujud, melainkan mercusuar intelektual bagi para penuntut ilmu di Sumatera Timur. Jika Masjid Raya Medan dikenal karena kemegahannya yang masif, Masjid Raya Stabat adalah versi yang lebih intim namun tetap memancarkan kemewahan yang setara.
Material bangunannya, mulai dari marmer hingga lampu kristal, didatangkan langsung dari Eropa dan Turki melalui pelabuhan-pelabuhan Kesultanan Langkat. Dalam buku otoritatif "Sejarah Kerajaan Langkat" karya sejarawan legendaris H.M. Said, disebutkan masjid ini dibangun untuk poros peradaban Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sultan Abdul Aziz membangun masjid ini dengan visi menjadikan Stabat sebagai poros peradaban Islam yang modern namun tetap berakar pada tradisi. Dana pembangunan yang berasal dari kekayaan hasil bumi, terutama minyak dan perkebunan, dialokasikan untuk menciptakan ruang ibadah yang paling nyaman bagi rakyatnya sebuah 'Istana Tuhan' yang terbuka bagi semua golongan," demikian isi dalam buku itu.
Keunikan sejarah Masjid Raya Stabat terletak pada fungsinya sebagai pusat literasi. Pada masa kesultanan, setiap bulan Ramadan, serambi-serambi masjid ini menjadi tempat berkumpulnya ulama dari mancanegara untuk mendiskusikan kitab-kitab kuno.
Jurnal penelitian UIN Sumatera Utara (UINSU) mencatat masjid ini dulunya basis penyalin manuskrip kitab kuning di Langkat.
"Masjid Raya Stabat dulunya merupakan basis bagi para penyalin manuskrip dan pengajar kitab kuning di wilayah Langkat. Tradisi 'Bahtsul Masail' (diskusi hukum Islam) yang dilakukan setiap sore menjelang berbuka menjadikannya sebagai poros intelektual Muslim yang sejajar dengan pusat-pusat ilmu di Semenanjung Malaya," ungkapnya.
Arsitekturnya yang mengadopsi gaya Mughal dan Melayu menciptakan sistem sirkulasi udara yang luar biasa. Lantai marmer aslinya tetap terasa dingin meski matahari Ramadhan sedang terik-teriknya, memberikan ketenangan bagi jemaah yang beri'tikaf. Berada di dalam masjid ini seolah membawa kita kembali ke masa saat Langkat menjadi salah satu kesultanan terkaya di dunia, di mana kemakmuran duniawi dan kekhusyukan ukhrawi berjalan beriringan.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































