Di tengah kepungan perkebunan kelapa sawit dan karet yang dulunya merupakan tanah konsesi kolonial, berdiri sebuah bangunan yang menolak untuk tunduk pada zaman. Masjid Raya Sulaimaniyah, ikon Kesultanan Serdang yang dibangun pada tahun 1894, bukan sekadar persinggahan musafir di Jalur Lintas Sumatera.
Masjid itu adalah saksi bisu upaya Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah dalam memagar marwah rakyatnya dari pengaruh budaya Barat yang kian masif di akhir abad ke-19.
Benteng Identitas di Tengah Ekspansi Kolonial
Berbeda dengan masjid-masjid di pusat kota Medan yang banyak mengadopsi elemen arsitektur Eropa modern atas pengaruh konsultan Belanda, Masjid Sulaimaniyah justru mempertegas gaya Melayu, Turki, dan Mughal. Hal ini bukan tanpa alasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam buku otoritatif "Sejarah Kesultanan Serdang" karya Tengku Luckman Sinar menjelaskan masjid dianggap Sultan Sulaiman sebagai pusat kedaulatan.
"Sultan Sulaiman memandang masjid sebagai pusat kedaulatan. Di saat wilayah-wilayah tetangga mulai tergiur dengan kemewahan gaya hidup Barat, Masjid Sulaimaniyah diresmikan sebagai simbol bahwa Serdang adalah tanah yang berakar pada syariat Islam dan adat Melayu. Masjid ini menjadi titik kumpul para ulama untuk menyusun strategi pendidikan rakyat agar tidak tergerus arus kolonisasi," demikian tertulis dalam buku itu.
Kejeniusan Arsitektur Tanpa Listrik
Salah satu kekuatan sejarah bangunan ini terletak pada sistem ventilasinya. Langit-langit masjid dihiasi dengan ukiran kayu tembus atau kerawang yang sangat rumit.
Jurnal penelitian Departemen Seni Rupa UNIMED mencatat bahwa ornamen di masjid tersebut bukan hanya sekedar hiasan.
"Ornamen pada Masjid Sulaimaniyah bukan hanya hiasan estetik, melainkan sistem pengatur suhu alami. Penempatan lubang-lubang ukiran di titik tertentu menciptakan sirkulasi udara silang (cross ventilation) yang membuat interior masjid tetap sejuk di tengah cuaca panas pesisir Sumatera, memberikan kenyamanan maksimal bagi jemaah yang beri'tikaf saat berpuasa."
Ramadan dan Marwah yang Terjaga
Bagi masyarakat Serdang, Ramadan di masjid ini adalah tentang menjaga tradisi. Sejak zaman Sultan, masjid ini menjadi tempat pelaksanaan fardhu kifayah dan kajian kitab kuning yang intensif. Hingga hari ini, warna hijau (simbol Islam) dan kuning (simbol kemuliaan Melayu) yang menyelimuti bangunan ini seolah berteriak bahwa sejarah Serdang tetap hidup, tidak peduli seberapa cepat dunia di luarnya berubah.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































