Mengenal Tanjak Hiasan Kepala Khas Melayu Kepri

Kepulauan Riau

Mengenal Tanjak Hiasan Kepala Khas Melayu Kepri

Alamudin Hamapu - detikSumut
Minggu, 25 Sep 2022 10:30 WIB
Tanjak, ikat kepala khas Melayu Kepri (Alamudin Hamapu/detikSumut)
Tanjak hiasan kepala khas Melayu Kepri (Alamudin Hamapu/detikSumut)
Batam -

Tanjak adalah salah satu aksesoris penutup kepala lelaki Melayu berbentuk runcing ke atas. Terbuat dari kain songket panjang yang dilipat, Tanjak seringkali berbentuk ikatan hiasan kepala dengan gaya tertentu.

Berdasarkan buku Destar Alam Melayu karya Johan Iskandar, Tanjak disebutkan sudah ada sejak tahun 1400. Dalam buku itu disebutkan, Tanjak pertama bernama takur tukang besi atau disebut juga dengan istilah ibu tanjak. Kini penggunaan Tanjak kian beragam peruntukkannya dan biasanya dipadukan dengan baju kurung khas Melayu Kepulauan Riau.

Tarmizi, pengrajin Tanjak Rumahitam di Kota Batam mengatakan, Tanjak ialah ikat kepala lelaki Melayu dan menjadi cara orang Melayu memuliakan kepalanya secara fisik serta menjaga isi kepala atau pikirannya agar tetap berpikir positif.


"Tanjak ini cara leluhur Melayu memuliakan kepalanya, dan memiliki berbagai bentuk serta motif," kata dia, belum lama ini.

Berbagai bentuk Tanjak yang biasanya digunakan masyarakat Melayu Kepri.Berbagai bentuk Tanjak yang biasanya digunakan masyarakat Melayu Kepri. (Alamudin Hamapu/detikSumut)

Penggunaan Tanjak sendiri tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan. Menurut Tarmizi Tanjak digunakan oleh semua kalangan lelaki Melayu. Saat ini penggunaan Tanjak biasa terlihat di acara kebudayaan. Tanjak juga kini disematkan kepada tamu penting yang tiba di Provinsi Kepri.

Setidaknya berbagai jenis (model) Tanjak Melayu, antara lain Lang Melayang, Lang Menyongsong Angin, Dendam tak Sudah, Balung Ayam, Cogan Daun Kopi, Pucuk Pisang, Mumbang Belah Dua. Ada lagi jenis Sekelongsang Bunga, Belalai Gajah, Tanjak Balung Raja, Ketam Budu, Solok timba, Pari Mudek, Buana, Tebing Runtuh, dan Nahkoda Terong.

"Tanjak ini seperti karangan, bukan hanya mengarang puisi atau cerpen, ada istilah mengarang Tanjak. Dulu Tanjak tidak dijahit dipakai dengan diikat, tapi sekarang karena kemajuan zaman sudah dibentuk langsung dengan jahitan mesin agar mudah digunakan," tuturnya.

Sebagai pengrajin Tanjak, Tarmizi mengaku selalu berkreasi dan mengembangkan Tanjak hasil buah tangannya. Pengrajin Tanjak asal Batam ini juga telah membuat banyak kreasi, salah satunya ialah Tanjak julang derajat. Karyanya itu pun pernah disematkan kepada Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, saat keduanya melakukan kunjungan kerja ke Batam 2019 silam.

Masjid Tanjak yang ikonik dan dibangun di kawasan Bandara Hang Nadim, menurut Tarmizi memiliki corak nama yang disebut 'Dendam Tak Sudah'

"Dendam tak sudah ini bukan artian dendam, tetapi lambaian kasih, bukan dendam amarah. Jenis dendam tak sudah ini umum dan banyak dipakai orang," ujarnya.

Butuh Waktu Paling Lama 2,5 Jam untuk Membuat 1 Tanjak. Selengkapnya Ada di Halaman Selanjutnya...



Simak Video "Balita di Batam Tewas Usai Ditinju dan Dibanting Pacar Ibunya"
[Gambas:Video 20detik]