A Thousand Midnights in Kesawan, Drama Horor Romantis Anak Medan

Tim detikSumut - detikSumut
Sabtu, 21 Mei 2022 06:00 WIB
A Thousand Midnights in Kesawan
Foto: A Thousand Midnights in Kesawan
Medan -

Halo detikers, akhir pekan ini kami dari detikSumut ingin menginformasikan satu film garapan anak Medan berjudul A Thousand Midnights in Kesawan. Film yang disutradarai Djenni Buteto ini merupakan drama horor romantis yang juga menyuguhkan komedi.

Film yang bercerita tentang Kesawan ini mulai digarap pada tahun 2019 lalu. Awal penggarapan dengan melakukan casting pemain yang akhirnya menetapkan dua aktor Medan, Lorencia Adela Putri dan Rudy Syarif.

"Dua aktor ini kita pilih tahun 2019, kemudian masuk pada pelatihan tahun 2020. Setelah itu mulai pengambilan gambar. Sehingga memakan waktu sekitar 4 tahun. Karena kita juga dihadapkan pada covid 19," terang Djenni Buteto, di Medan, Jumat (20/5/2022).


Film yang diharapkan dapat memberikan edukasi kepada penonton ini, bercerita tentang situs sejarah Kesawan di Kota Medan. Direncanakan film ini diluncurkan di salah satu bioskop di Medan pada Juli 2022 bertepatan dengan hari jadi Kota Medan ke 432.

"Tanggal pastinya kita informasikan melalui peluncuran trailer film di kanal Youtube Uphill Society. Yang pasti di salah satu bioskop Kota Medan. Para pecinta film di Medan harus nonton. Karena ini merupakan garapan anak Medan," terangnya.

Djenni Buteto mengatakan bahwa proses perampungan film A Thousand Midnights in Kesawan memakan waktu yang cukup lama. Pasalnya memasuki tahun 2020 dunia dihadapkan pada persoalan Pandemi Covid 19.

Banyak aturan-aturan pemerintah ditengah pandemi covid 19 yang tidak terkendali. Termasuk tentang Peraturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang harus diikuti. Ada juga tantangan terkait kondisi lokasi pengambilan gambar juga tergolong sangat rumit.

Selain karena lokasinya di pusat kota, tim produksi juga harus menghadapi ulah sejumlah oknum preman yang meminta sejumlah bayaran. Belum lagi tantangan sulitnya menemukan sponsor untuk membiaya produksi karena pandemi.

"Proses pembuatan film ini juga memakan biaya yang cukup besar. Serta membutuhkan tim produksi yang cukup banyak. Sekalipun aktornya hanya dua orang. Tetapi team kerja lebih dari 30 orang," katanya.

Namun bagi Djenni Buteto tantangan itu penyemangat untuk menyempurnakan produksi film A Thousand Midnights in Kesawan. Dengan sejumlah tantangan yang dihadapi tim, maka produksipun semakin maksimal dan sesuai dengan harapan.

"Sebagai salah satu alumni jurusan Ilmu Sejarah di Universitas Sumatera Utara, ini merupakan upaya saya dan teman-teman lain untuk mengedukasi masyarakat Medan terkait sejarah lokal kita, semoga bermanfaat," jelasnya.

Djenni Buteto mengaku kini bisa merasa sedikit lega setelah akhirnya bisa merampungkan film panjang ke tiganya ini.

"Saat memulai pengerjaan kita sangat optimis bisa menjalani semua proses pra-produksi, produksi, hingga post pro. Banyak yang bisa dijadikan kekuatan buat film berikutnya nanti, karena bidang ini sangat potensial untuk digarap," ujarnya.

Proses pengambilan gambar A Thousand Midnights in Kesawan di Lapangan Merdeka, Medan. Dokumen Djenni ButetoProses pengambilan gambar A Thousand Midnights in Kesawan di Lapangan Merdeka, Medan. Dokumen Djenni Buteto

Sineas Jalur Indie

Film "A Thousand Midnights in Kesawan" merupakan film perdana Djenni Buteto dan Hendry Norman yang digarap secara kolaborasi. Keduanya merupakan sutradara dan penulis skenario sejumlah film dan beberapa di antaranya masuk dalam festival film nasional.

Bagi Djenni Buteto sendiri, film A Thousand Midnights in Kesawan ini merupakan film panjang ketiganya. Film panjang perdananya, La Lebay rilis tahun 2016, sementara film keduanya merupakan film dokumentari berjudul Suara Dari Jalanan (The Protest) rilis pada 2018 lalu dan menjadi finalis di Sewon Film Festival 2018.

Ia juga memproduksi beberapa film pendek sejak 2010 hingga sekarang. Lulusan SAE Institut dan Universitas Sumatera Utara ini mengaku sangat antusias menggarap film bertema kedaerahan terutama sejarah dan budaya Sumatera Utara. Baginya Sumatera Utara sangat kaya tema untuk diangkat ke layar lebar.

"Saya sangat suka sejarah. Beberapa buku sejarah telah sangat baik mengisahkan tentang suatu daerah atau peristiwa di Sumut. Tentang kuli perkebunan di zaman kolonial misalnya, tentang sejarah kejayaan tembakau deli misalnya, banyak sekali yang bisa diangkat, dan pasti menarik. Namun, perlu kerja sama beberapa pihak untuk mewujudkan itu," ujarnya.

Selama ini baik Djenni dan Hendry lebih banyak menggarap film indie. Ide yang bebas dan eksplorasi gagasan dalam film memacu mereka untuk terus membuat film yang lebih baik lagi. Hendry lebih banyak menggarap film dokumenter, diantaranya Medan Hardcore, Imperator Infernum, Identitas.



Simak Video "Sejarah! Sudah 8 Film Indonesia Raih 2 Juta Penonton Tahun Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(dpw/dpw)